Artikel Terbaik


Hidup memang penuh dinamika, kadang kita berada di atas, namun tak jarang kita berada di bawah. Suatu saat kita dilimpahi dengan kesenangan dan kenikmatan duniawi, seperti mendapat keuntungan besar dalam perdagangan, mendapat pujian, naik jabatan, dsb. Dan di saat lainnya kita dihadapkan pada situasi sulit yang menghimpit dada, seperti terbelit hutang, mendapat fitnah, ditinggalkan oleh keluarga yang kita cintai, kehilangan barang, dsb. Di saat-saat ini, dunia terasa sempit bagi kita, ingin rasanya hati ini menjerit sekuat tenaga untuk menghalau beban yang menyesakkan, berusaha mencari sedikit ruang untuk bernapas dengan lega.

Tak jarang permasalahan dalam kehidupan ini mampu membutakan manusia. Hati dan penglihatannya menjadi gelap, sedang telinganya tersumbat. Ia tidak dapat membedakan lagi antara yang benar dan yang batil, yang ada dalam pikirannya hanyalah keinginan untuk melampiaskan kemarahan dan kesedihan hatinya. Ia tidak lagi memandang permasalahan yang dihadapinya dengan perspektif yang benar. Akibatnya, ia melakukan hal-hal yang berakibat sangat fatal, dan inilah yang banyak terjadi di sekeliling kita. Sudah terlalu sering kita mendengar, membaca, atau melihat melalui media massa berbagai kejadian mengenaskan di mana kehidupan seorang manusia sudah tidak ada artinya lagi. Sudah bosan kita dicekoki dengan pemberitaan mengenai tindakan zalim seorang ayah terhadap anaknya, anak terhadap ibunya, seorang anak terhadap temannya, dsb.

Lalu mengapakah manusia harus dihadapkan pada situasi semacam ini?

Mari kita kaji satu ayat dalam Al-Quran, di mana Allah berfirman,

QS. Al-Baqarah : 214
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?”. Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”

Demikianlah hakikat kehidupan, Saudaraku. Sesungguhnya tidak diturunkan manusia di bumi ini melainkan Allah berkehendak menguji, siapa di antara kita yang beriman, dan siapa di antara kita yang ingkar. Iman memang mudah diucapkan oleh lisan, tetapi untuk membuktikannya dibutuhkan perjuangan yang berat. Sejarah telah menceritakan kepada kita bagaimana Allah menguji umat-umat sebelum kita dengan cobaan yang dahsyat, tanpa terkecuali. Al-Quran menyebutkan kisah-kisah kaum terdahulu, bagaimana para nabi dan rasul beserta pengikutnya berjuang melawan kezaliman.

Lalu, apabila orang-orang yang beriman selalu diuji atas keimanan mereka, di manakah letak keadilan?

Ayat di atas telah menjelaskan bahwa surga adalah balasannya. Sesungguhnya dunia ini hanyalah sementara, sedangkan kehidupan yang sesungguhnya lagi kekal adalah kehidupan akhirat. Di sana segala amal baik dan buruk diperhitungkan dengan tepat tanpa menyisakan satu amal pun yang terlewat. Setiap amal baik akan mendekatkan manusia ke surga, sedangkan setiap amal yang buruk akan mendekatkan manusia ke neraka. Segala urusan yang tidak tuntas di dunia akan diselesaikan Allah dengan seadil-adilnya di akhirat. Itulah mengapa Islam datang pertama kali dengan seruan kepada manusia untuk meyakini adanya kehidupan akhirat.

Bagaimanakah manusia yang lemah dan terbatas ini mampu melalui cobaan-cobaan itu?

Sesungguhnya Allah telah menjanjikan pertolongan kepada Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya. Pertolongan Allah itu amat dekat. Ia pasti datang dan menyelamatkan manusia.

Namun dengan apa manusia meminta pertolongan kepada Allah ketika ditimpa cobaan?

QS. Al-Baqarah : 153-157
“Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Marilah kita renungkan, Saudaraku, bagaimana Nabi Nuh as berjuang menegakkan kalimat Allah selama hampir 1000 tahun, dan beliau tidak mendapatkan bersamanya pengikut melainkan sebagian kecil manusia saja? Bagaimana Nabi Ayub as menghadapi sakit yang dideritanya, bagaimana Nabi Yusuf as menghadapi kedengkian saudara-saudaranya, godaan Zulaikha, dan fitnah yang ditimpakan atas dirinya? Lalu bagaimana yang terjadi dengan Rasulullah saw bersama kaum mukmin menghadapi cobaan yang datang dari kaum Quraisy? Mereka tidak hanya mendustakan ajaran yang dibawa Rasulullah saw, tetapi mereka juga menyiksa, mengintimidasi, memfitnah, bahkan mereka bermaksud membunuh Rasulullah saw.

Dengan apakah, wahai Saudaraku, para hamba pilihan Allah bersama pengikutnya itu menghadapi cobaan yang begitu berat, sampai akhirnya mereka memperoleh kemenangan yang mutlak? Tidak lain dengan kesabaran. Sabar merupakan senjata menghadapi berbagai masalah kehidupan. Bahkan ketika cobaan itu merenggut jiwa dari badannya, sesungguhnya orang-orang yang gugur dalam iman kepada Allah, gugur dalam memperjuangkan agama Allah, mereka itu hidup dan mendapat ridha Allah.

Cobaan adalah sesuatu yang tidak terhindarkan dalam kehidupan. Maka janganlah apa-apa yang ‘seolah-olah’ kita miliki di dunia ini, baik itu harta, jiwa, kedudukan dan anak-anak kita membutakan mata hati kita. Hakikatnya semua itu bukanlah milik kita. Semua itu hanyalah titipan Allah, yang sewaktu-waktu bisa diambil oleh pemiliknya. Bahkan tidak ada setitik debu pun di dunia ini yang menjadi milik kita. Lalu apakah kita akan menghalangi Sang Pemilik untuk mengambil apa yang menjadi hak dan wewenangnya? Na’udzubillaah.

Tidak ada daya dan kekuatan kita untuk melawan apa yang telah menjadi ketetapan Allah. Segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Saudaraku, ingatlah konsep kepemilikan ini setiap saat dalam hidup kita, insya Allah kita akan mendapat kemudahan untuk tetap berada dalam kesabaran ketika menghadapi berbagai macam cobaan.

Namun kesabaran dalam Islam tidaklah berarti menyerah kepada keadaan, menerima setiap perlakuan dan penindasan. Sabar meliputi ikhtiar dengan niat mencari ridha Allah semata. Hidup adalah sebuah perjuangan, dan ibarat sebuah perjuangan, sabar adalah strategi menghadapi musuh yang di dalamnya terdapat teknik bertahan dan menyerang. Keduanya harus digunakan pada saat yang tepat. Tidak selamanya perjuangan berarti penyerangan ke garis batas musuh, bisa jadi kita memerlukan waktu untuk bertahan, bahkan mengambil langkah mundur sesaat. Akan tetapi kita harus terus menghinpun kekuatan dan menyusun langkah hingga kita bisa menembus pertahanan musuh dan memperoleh kemenangan. Niatkanlah semuanya karena Allah.

Saudaraku, sesungguhnya kemenangan itu telah pasti dijanjikan Allah kepada orang-orang yang sabar. Teguhkan iman, sesungguhnya Allah begitu mengasihi hamba-hamba-Nya yang bersabar. Sambutlah datangnya pertolongan Allah dan kemenangan yang telah dijanjikan, berupa kebahagiaan kehidupan yang kekal, kehidupan akhirat.

“Apabila telah Ku-bebankan kemalangan (bencana) kepada salah seorang hamba-Ku pada badannya, hartanya, atau anaknya, kemudian ia menerimanya dengan sabar yang sempurna, Aku merasa enggan menegakkan timbangan baginya pada hari kiamat atau membukakan buku catatan amalan baginya.”
(HQR. Al-Qudlani, Ad-Dailani, dan Al-Hakimut Turmudzi dari Anas ra)

QS. Ali Imran : 200
“Hai orang-orang yang beriman, berlaku sabarlah dan perkuat kesabaran di antara sesama kalian, dan bersiap-siaplah kalian serta bertaqwalah kepada Allah supaya kalian memperoleh kemenangan.”

QS. Al-Fajr : 27-30
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhan-mu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surgaku.”

( dari : Diah )

Rujukan :
1. Al-Qur’anul Karim
2. “Kumpulan Hadits Qudsi”, KH M. Ali Usma, H. A. A. Dahlan, Prof. Dr. H. M. D. Dahlan, CV Diponegoro Bandung.

Selasa, 29 Januari 2008

Eko Widaryanto, Dosen Pertanian Unibraw Pembuat Kompor Biji Jarak

28 Januari 2008

Tiga Bulan Merancang, Buat Api Biru, lalu …
Keresahan perajin kompor minyak tanah (mitan) di Merjosari dan Tlogomas memantik Eko untuk merekayasa kompor mitan menjadi kompor biji jarak. Karyanya pun menjawab asa perajin kompor mitan untuk bisa tetap eksis.
SEGENGGAM biji tanaman jarak pagar (Jatropa sp) diambilnya dari dalam kardus. Biji berwama hitam, dengan bentuk mirip biji rarnbutan itu kondisinya sudah dikeringkan. Eko meletakkan beberapa biji di atas bantalan kayu, lalu memukulnya perlahan dengan palu. Biji itu pecah, kulitnya yang berwarna hitam terpisah. Yang tinggal adalah isi biji berwama putih. Dia kumpulkan isi biji jarak warna putih tersebut. Lalu dia masukkan ke dalam mulut kompor hingga batas tertentu. Kompor biji jarak itu berbentuk nyaris sarna dengan kompor minyak tanah ukuran 16 sumbu. Dia menuangkan sedikit minyak tanah melalui mulut kompor. Minyak tanah itu hanya untuk membasahi permukaan biji jarak kupasan itu agar cepat menyala.
Lalu dia nyalakan kompor tersebut menggunakan api dari penyulut. Beberapa menit kemudian, api pun mulai mengelilingi mulut kompor. Jika panci berisi air dinaikkan ke atas mulut kompor, kira-kira, 80 persen api berwama biru.
"Kalau dibandingkan dengan kompor minyak tanah, nyala apinya tidak berbeda jauh. Kalau dengan nyala api elpiji ya jelas berbeda dong," ujar bapak 51 tahun ini.
Eko sudah tiga bulan terakhir ini merekayasa sebuah kompor berbahan bakar biji jarak. Jarak sebagai bahan bakar altematif tidak perlu melalui proses penyulingan untuk dijadikan minyak.
Cukup dikupas, dimasukkan mulut kompor, disulut dengan api, langsung bisa digunakan untuk memasak. "Sekitar 250 gram biji jarak kupasan, bisa untuk memasak selama dua jam," ungkap dosen Budidaya Pertanian Universitas Brawijaya ini.
Eko mengakui, kompor biji jarak hasil rekayasanya bukan yang pertama di Indonesia. Ada dua kompor sejenis di Bandung dan Nusa Tenggara. Namun, kompor miliknya berbeda sistem dan cara kerjanya. Meski bahan bakamya sama yakni dari biji jarak. "Karena beda sistem itu, saya yakin api dari kompor ini yang paling biru. Mempersiapkan biji jaraknya juga tidak susah," katanya.
Lulusan Pasca Sarjana Ilmu Pertanian UGM ini menerangkan, kompor biji jarak miliknya nyaris persis dengan kompor mitan. Perbedaannya terletak pada tidak adanya wadah minyak tanah, dan tempat sumbu. Wadah minyak tanah diubah menjadi tempat penyimpanan arang biji jarak yang sudah terbakar. Sedangkan tempat sumbu diubah menjadi ruang lapang tempat biji jarak berada.
Lubang angin (sarangan) juga nyaris sama. Hanya ada pengecilan pada diameter di lubang angin bagian bawah. Untuk tuas membesarkan dari mengecilkan api di kompor minyak, diubah menjadi tuas untuk mengecilkan dan membesarkan aliran udara.
"Tujuannya sama untuk mengontrol besar kecilnya api," ungkap pria asal Kediri ini.
Awal mula ketertarikan Eko untuk mengutak-atik kompor minyak menjadi kompor biji jarak ketika mulai mendengar kekhawatiran pengusaha kompor mitan yang ada di Kelurahan Merjosari dan Tlogomas. Adanya konversi minyak tanah menjadi elpiji 3 kilogram di Kota Malang membuat mereka terancam gulung tikar. Kebetulan dia bermukim di wilayah Tlogomas, tepatnya di Jalan Tlogo Indah 44.
"Saya datangi beberapa perajin kornpor. Diskusi lalu mengutak-atik kompor itu. Kebetulan saya tahu banyak soal jarak karena menjadi bahan disertasi saya," ungkap Eko.
Setelah merancang sebuah kompor jadi, dia lalu meminta salah seorang perajin kompor untuk membuatnya. Kompor perdana yang dia buat belum sepenuhnya sempurna. Dia sempat membandingkan dengan kompor biji jarak di Bandung dan Nusa Tenggara. "Saya reka-reka sendiri. Bagaimana kira-kira bentuknya. Tiga kali buat kompor itu," katanya.
Yang menjadi perhatiannya adalah bagaimana nyala api bisa dominasi biru. Sebab kalau hanya bisa menyala saja, tanpa menggunakan kompor, biji jarak sudah bisa menyala ketika disulut api.
Akhimya, tiga bulan berkutat dengan rekayasa kompor, hasil rancangannya cukup melegakan. "Lumayan meski belum terlalu sempuma," ungkap Eko yang memberi nama kompornya kompor Garlina, sesuai dengan CV miliknya.
Bagaimana dengan tingkat kepraktisan kompor tersebut? Eko mengatakan ketika biji jarak kupasan sudah banyak dijual, dia memandang kompor tersebut cukup praktis. Sebagai bahan bakar alternatif. Soal keharusan untuk membersihkan arang setelah 5 jam penggunaan, itu akan terus dicarikan solusi yang lebih praktis. "Kalau dilihat dari sisi memanfaatkan biji tanaman yang selama ini dibuang, ya sangat praktis," ujamya.
Nilai ekonomisnya, satu kilogram biji jarak kering Rp 1.000. Kalau dikupas tinggal 700 gram. Berarti 700 gram jarak kupasan seharga Rp 1.428. "Kalau 250 gram untuk dua jam, 700 gram kurang lebih enam jam. Cukup murah," ungkap Eko.
Ketersediaan biji jarak, lanjut Eko, bakal melimpah setelah keluamya Inpres Nomor 1/2006 tentang Energi Altematif. Sebab hampir seluruh daerah tingkat dua menginstruksikan warganya menanam jarak di lahan kosong.
"Kalau nanti minyak tanah habis di pasaran, sudah ada altematif ini," katanya. Terkait dengan hasil karyanya itu, Eko telah mempraktikkannya ke Dinas Perkebunan Provinsi Jatim. Banyak usulan penyempumaan meski banyak juga yang tertarik untuk memesannya. "Dengan begini, puluhan pengusaha kompor minyak di Malang masih bisa eksis. Sebab mereka bisa membuat kompor biji jarak ketika nanti sudah memasyarakat," harap dosen yang pernah mengikuti training mengajar di Universitas Osaka Jepang ini.
Murdopo, salah seorang perajin kompor di wilayah itu mengatakan, kalau toh nanti kompor minyak mati, maka dia sangat bersyukur kalau kompor biji jarak digalakkan. Sebab para perajin bisa langsung beralih. Dengan peralatan yang ada dan desain yang sederhana, memproduksi kompor biji jarak bukan sesuatu yang sulit.
"Kalau melihat desain yang diajukan Pak Eko, tidak sulit. Hampir sama dengan kompor minyak," kata Murdopo. [*/ing]
Yosi Arbianto, RADAR Malang, Senin, 28 Januari 2008. http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_radar&id=193009&c=88

Fakultas Pertanian: Dua Program Studi Mulai 2008/2009

Mulai tahun akademik 2008/2009, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (FP Unibraw) akan menyelenggarakan hanya dua program studi (PS), yaitu PS Agroekoteknologi, dan PS Agribisnis. Ketentuan ini berlaku bagi mahasiswa baru 2008/2009. Demikian pernyataan Dekan Prof Ir Sumeru Ashari MAgrSc PhD kepada PRASETYA Online, Senin (28/1). Sebelum ini, FP Unibraw menyelenggarakan 7 PS, yaitu Agronomi, Hortikultura, Pemuliaan Tanaman, Hama dan Penyakit Tumbuhan, Ilmu Tanah, Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian, serta Agribisnis.
Dijelaskan, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi beberapa waktu silam telah menerbitkan SK Nomor 163/DIKTI/Kep/2007 tentang penataan dan kodifikasi program studi pada perguruan tinggi. Surat keputusan bertanggal 29 November 2007 itu menegaskan,
ketentuan itu berlaku bagi seluruh perguruan tinggi yang ada di negeri ini, tidak terkecuali FP Unibraw.
Sesuai dengan SK Dirjen Dikti tersebut, maka 5 PS (Agronomi, Hortikultura, Pemuliaan Tanaman, Hama dan Penyakit Tumbuhan dan Ilmu Tanah) digabung dalam 1 PS, yaitu PS Agroekoteknologi. Sementara PS Agribisnis dan PS Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian menjadi PS Agribisnis.
Menurut Prof Sumeru, penyederhanaan PS tersebut sebenarnya merupakan usulan dari Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian se Indonesia (FKPTI) yang telah digodok oleh forum sekitar 6 tahun. Pertemuan rutin forum itu bertujuan untuk menentukan kebijakan pendidikan pertanian masa depan yang semakin kurang diminati oleh para lulusan SMA. Pertemuan tersebut selain mengikutsertakan beberapa pengguna lulusan pertanian (stakeholders) juga para alumni yang tersebar di seluruh tanah air. Hasil konsultasi tersebut, para pengguna lebih menghendaki lulusan yang mampu menerapkan ilmu pertanian secara umum (generalis), bukan spesialis sebagaimana yang dihasilkan selama ini. Sementara itu keahlian tertentu (spesialis) hanya dibutuhkan untuk jenjang pendidikan magister (S-2) dan doktor (S-3).
Pokja Promosi
Akhirnya diputuskan untuk menerapkan 2 program studi FP Unibraw bagi mahasiswa baru tahun akademis 2008/2009. Diakui bahwa penyederhanaan 7 PS menjadi 2 PS bukan hal yang mudah, sekalipun sudah dipersiapkan semenjak lama. Untuk itu dibentuk beberapa kelompok kerja (Pokja), yakni Pokja Restrukturisasi Program Studi, Pokja Penyusunan Kurikulum Berbasis Kompetensi, dan Tim Promosi untuk mensosialisasikan program studi ini kepada masyarakat luas. Sejauh ini, Pokja Restrukturisasi Program Studi sudah menyelesaikan tugasnya. Sedangkan Pokja Penyusunan Kurikulum Berbasis Kompetensi saat ini sedang bekerja.
Setiap tahun FP Unibraw meluluskan sekitar 550 orang, agar proses pembelajaran ini berjalan nyaman terutama karena berkaitan dengan pendanaan, maka logikanya jumlah mahasiswa baru yang menempuh di fakultas ini harus seimbang, yaitu sekitar 550 orang. Berdasarkan catatan yang ada, sekitar 30% dari calon mahasiswa yang lulus tes ternyata tidak mendaftar ulang. Untuk mengantisipasi hal tersebut, jumlah mahasiswa baru 2008/2009 ditargetkan sekitar 700 orang. Jumlah tersebut meningkat 2 kali lipat dibandingkan dengan jumlah mahasiswa tahun lalu, yaitu sebanyak 362 orang.
Sementara itu Ketua Tim Promosi, Dr Ir Bambang Tri Rahardjo MS mengatakan, selama ini FP Unibraw kurang dikenal masyarakat, terutama para lulusan SMA, sehingga minat yang masuk ke fakultas ini sangat kurang. Dengan mengadakan promosi secara aktif, diharapkan jumlah mahasiswa baru akan meningkat. Dilibatkan dalam kegiatan promosi, selain dosen dan karyawan, juga pengurus organisasi kemahasiswaan seperti BEM, HMJ dan Unit-unit Aktivitas.
Mulai bulan depan (4/2), dijadwalkan kegiatan promosi ini akan dilaksanakan dengan beberapa metode. Pertama secara tertulis mengirimkan surat dan brosur kepada sekolah menengah atas (SMA), madrasah aliyah (MA), sekolah menengah kejuruan (SMK), dan instansi Pemkot-Pemkab se Indonesia. Kedua, mengadakan kunjungan audensi langsung baik ke SMA, SMK, MA serta lembaga-lembaga penyelenggara bimbingan tes se Jawa Timur. Selain daripada itu FP Unibraw juga masih konsisten mengikuti promosi yang setiap tahun diselenggarakan secara rutin oleh Universitas Brawijaya. Dengan teknis promosi seperti itu, Dekan yakin untuk tahun akademik 2008/2009 jumlah mahasiswa baru seperti yang ditargetkan dapat terpenuhi. [sas]
Sumber: www.prasetya.brawijaya.ac.id

Minggu, 27 Januari 2008

ISLAM ADALAH NASEHAT

Oleh Asatidz Ahlussunnah

Diriwayatkan dari Abu Ruqayah Tamim bin Aus Ad Daary sesungguhnya Nabi Shalallahu ’alaihi wasallam bersabda, "Agama itu nasehat." Kami bertanya, "Untuk siapa?" Beliau menjawab, "Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan umumnya mereka" (HR. Bukhari, Muslim dan yang lainnya).
Hadits ini diriwayatkan dari segolongan para shahabat, di antaranya Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Tamim Ad Daary dan Ibnu Umar radliyallahu 'anhum (lihat Al Irwa' No. 26)

Definisi Nasehat
Nasehat kadang-kadang bermakna khulush (bersih, murni dan yang lainnya). Bisa juga artinya menjahit (lihat Lisanul Arab, 2/615). Ibnu Katsir berkata dalam An Nihayah: "Nasehat adalah sebuah kata yang mengungkapkan tentang kalimat yang berisi keinginan agar yang dinasehati mendapat kebaikan." Abu Amr bin Ash Shalah berkata: "Nasehat adalah sebuah kalimat yang ringkas yang mengandung usaha si penasehat dengan memberi berbagai segi kebaikan secara kehendak dan perbuatan kepada yang dinasehati."

1. Nasehat Untuk Allah Subhaanahu wata’ala
Nadhim Sulthan berkata dalam Al Qawa'id hal. 91-96: "Nasehat untuk Allah adalah dengan beriman yang jujur kepada-Nya. Dengan apa-apa yang dikabarkan dan diceritakan di dalam kitab-Nya dan juga yang melalui Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wasallam. Juga dengan ikhlas beribadah kepada-Nya semata dan tidak beribadah kepada selain-Nya, mematuhi apa saja yang telah diperintahkan-Nya, menjauhi apa yang dilarangNya, mencintai apa yang Dia cintai, membenci yang Dia benci, berwala' kepada hamba-hambaNya yang beriman dan sebaliknya memusuhi serta menjauhi musuh-musuhNya."
Barangsiapa yang telah berhasil menunaikan itu berarti dia telah membersihkan dirinya dari karat-karat dan kotoran-kotoran yang rendah dan dia telah melakukan nasehat bagi Allah.
Makna nasehat di sini adalah ikhlas kepada Allah dan yang menguatkannya adalah firman Allah:
"Tidak dosa (lantaran tidak pergi jihad) atas orang-orang yang lemah, atas orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan RasulNya" (QS.At-Taubah: 91).
Makna nasehat pada ayat ini adalah mengikhlaskan ucapan dan perbuatan.
Imam Al Qurthubi menyatakan dalam tafsirnya terhadap ayat ini bahwa para ulama berkata: "Nasehat bagi Allah adalah memurnikan keyakinan dalam ketunggalan-Nya dan juga memberi sifat kepada-Nya sifat-sifat keilahan, mensucikan-Nya dari segala kekurangan serta mencintai yang dicintai-Nya dan menjauhi yang dibenci-Nya" (Tafsir Al Qurthubi 8/227)

2. Nasehat Untuk KitabNya
Yaitu beriman dengan kitab-Nya menurut cara yang dicontohkan para salaful ummah. Keyakinan para salaf tentang Al Qur'an adalah meyakini bahwa Al Qur'an adalah kalamullah, dan bukan makhluk. Al Imam Abu Utsman Ash-Shabuni mengatakan dalam risalah Aqidatus Salaf Ashabil Hadits: "Para ahlul hadits bersaksi dan meyakini bahwa Al Qur'an adalah kalamullah, kitab dan wahyu-Nya bukan makhluk. Barangsiapa yang mengatakan Al Qur'an adalah makhluk dengan keyakinan, maka dia dianggap kafir oleh para ahlul hadits." Al Qur'an adalah kalamullah dan wahyu-Nya yang dibawa oleh Jibril kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, berbahasa Arab untuk kaum yang mengetahui sebagai pemberi peringatan dan kabar gembira, sebagaimana firman Allah:
"Dan sesungguhnya Al Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam. Dia dibawa oleh Ar Ruhul Amin (Jibril) ke dalam hatimu agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas." (QS.Asy-Syu'ara: 192-195)
Al Qur'an adalah wahyu yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam kepada umatnya, sebagaimana beliau diperintahkan oleh Allah dalam ayat: "Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Rabbmu." (QS.Al Maidah: 67).
Dan Al Qur'an adalah kalamullah sebagaimana hadits dari Jabir yang menceritakan Nabi menawarkan dirinya kepada orang yang pulang haji: "Adakah seorang yang akan membawaku kepada kaumnya, sebab orang Quraisy telah melarangku untuk menyampaikan kalam Rabbku." (HR. Bukhari dalam Khalqul Af'alil Ibad 86, 205).
Itulah Al Qur'an, dia bukan makhluk. Barangsiapa yang mengira dia makhluk, maka dia dianggap kafir menurut para ahlul hadits.
Imam Al Qurthubi mengatakan dalam tafsirnya Al Jami' li Ahkamil Qur'an, ketika menafsirkan makna 'nasehat bagi kitab Allah' adalah dengan:
a. Membacanya
Membaca Al Qur'an memiliki banyak keutamaan. Hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam yang berkaitan dengan hal ini di antaranya adalah: "Bacalah Al Qur'an oleh kalian, karena dia akan datang di hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya." (HR. Muslim dalam Kitabul Musafirin No.252/804)
b. Memahaminya
Kebanyakan kaum muslimin membaca Al Qur'an dengan indah, tetapi tidak memahami arti dan tafsir yang benar tentangnya. Demikian juga orang-orang yang menghafal Al Qur'an tetapi tidak memahaminya dan hanya sebatas menghafal huruf-hurufnya saja.
Al Imam Ath-Thurthusi dalam Al Hawadits hal. 96, yang ditahqiq oleh Syaikh Ali Hasan, menyatakan: "Termasuk kebid'ahan yang dilakukan oleh orang-orang tentang Al Qur'an adalah sekedar menghafal huruf-hurufnya tanpa memahaminya."
Imam Malik meriwayatkan dalam Muwatha'nya 1/205 menyatakan: "Abdullah bin Umar berhenti pada surat Al Baqarah selama delapan tahun. Para ulama berkata bahwa maknanya adalah beliau mempelajari faraidlnya, hukumnya, halal haramnya, janji, ancamannya dan lain-lain."
Diriwayatkan dari Malik dalam Al Utaibah, beliau berkata: "Pernah ditulis surat kepada Umar bin Al Khathab dari Irak yang mengabarkan kepadanya bahwa beberapa orang telah menghafal Al Qur'an. Maka Umar memberikan imbalan pada mereka dengan mengatakan: Berikan kepada mereka harta." Kemudian bertambah banyaklah orang yang menghafal Al Qur'an. Satu tahun setelah itu ditulis surat kepada Umar bahwa ada 700 orang yang telah menghafal Al Qur'an. Kemudian Umar membalas: "Aku khawatir kalau mereka bersegera dalam Al Qur'an tanpa memahaminya." Imam Malik berkata: "Maknanya adalah beliau khawatir kalau mereka menakwilkannya dengan tidak benar."
Beginilah keadaan para pembaca Al Qur'an di masa ini. Kamu dapati mereka sanggup meriwayatkan Al Qur'an dengan 100 jenis riwayat, mengatur hurufnya dengan rapi, padahal dia sangat jahil terhadap hukum-hukumnya. Kalau engkau menanyakan kepadanya permasalahan sebenarnya tentang niat dalam wudlu, tempatnya, membawakannya, membatalkannya dan dalam memisah-misahkannya terhadap anggota-anggota wudlu, dia tidak bisa menjawab padahal dia membaca dan menghafal ayat:
"Wahai orang-orang yang beriman, bila kalian hendak mengerjakan shalat maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai siku." (QS.Al Maidah: 6).
Bahkan kalau engkau bertanya kepadanya apakah perintah Allah dalam ayat ini menunjukkan wajib atau nadb atau istihbab atau waqf atau mubah, belum tentu ia dapat menjawab secara rinci.
Imam Malik pernah ditanya tentang anak berumur 7 tahun yang telah menghafal Al Qur'an, maka beliau menjawab: "Menurutku hal itu tidak patut." Sisi pengingkaran beliau dalam hal ini adalah karena para shahabat membenci cepat-cepat menghafal Al Qur'an tanpa memahami maknanya. Al Hasan berkata: "Sesungguhnya Al Qur'an ini telah dibaca oleh para hamba dan anak-anak. Tapi mereka tidak tahu tafsirnya dan tidak memulai dari awalnya padahal Allah telah berfirman:
”Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran” (QS.Shad : 29)
Tadabur terhadap ayat-ayat-Nya adalah mengikutinya dengan Ilmu. Demi Allah, bukan dengan menghapal huruf-hurufnya dan menyia-nyiakannya hukum-hukumnya, sampai salah seorang mereka ada yang berkata :'Demi Allah, aku telah membaca Al-Qur'an semuanya dan tidak satupun tertinggal dari hurufnya.' Padahal dia-demi Allah- telah meninggalkannya. Tidak terlihat Al-Qur'an pada Akhlak dan amalnya. Diantaranya lagi ada yang berkata :' Demi Allah aku bisa membaca Al-Qur'an dengan satu nafas.' Meraka bukanlah qurra' dan bukan pula ulama yang wara'. Kapan para qurra' mengatakan demikian? Semoga Allah tidak memperbanyak orang-orang seperti mereka.”
Al Hasan berkata lagi :" Orang yang membaca Al-Qur'an ada tiga jenis : Pertama, Dia membaca Al Qur'an, dia jadikan Al-Qur'an sebagai barang dagangan dan dengannya dia mengharap harta manusia dari satu negeri ke negeri yang lain. Kedua, Ada yang membaca Al Qur'an dengan indah, tetapi mereka menyia-nyiakan hukum-Nya. Meraka mengalirkan harta banyak harta yang dimiliki para penguasa dan memfitnah para penduduk negerinya. Alangkah banyak yang demikian. Semoga Allah tidak memperbanyak orang-orang yang demikian. Ketiga, Ada yang membaca Al Qur'an, dia memulai dengan yang mengandung obat yang dia ketahui dari Al Qur'an. Kemudian dia gunakan untuk mengobati hatinya. Meleleh air matanya. Dia bergadang tidak tidur, sedih, khusyu'. Karena mereka, Allah menurunkan hujan, memusnahkan musuh-musuh, menolak bala. Demi Allah, pemikul Al Qur'an seperti ini sangat sedikit di kalangan manusia." (Masih dalam Tafsir Al-Qurthubi).
Beliau melanjutkan:" Allah telah berfirman tentang orang-orang yang menghafal kitab-kitab yang turun dari langit yang mereka tidak mengerti hukum-hukumnya, halal dan haramnya dengan ucapan-Nya:
“Di antara mereka ada orang-orang yang ummi, mereka tidak mengetahui tentang Al-Kitab kecuali membaca (amani) dan mereka hanya menduga-duga” (QS.Al Baqarah : 78)
Meraka menghafal Al Qur'an tetapi tidak mengetahui apa yang telah diturunkan oleh Allah di dalamnya tentang hikmah-hikmah dan pelajaran. Maka Allah mensifati mereka bahwa mereka hanya sekedar amani. Amani dalam konteks ini berarti tilawah (membaca).
Sufyan pernah berkata : "Tidak ada di dalam kitabullah ayat yang paling berat bagiku kecuali:
“Katakanlah :’Wahai ahli kitab, kalian tidak dipandang beragama sedikitpun sampai kalian menegakkan ajaran Taurat dan Injil (QS.Al Maidah: 68)
Menegakkan artinya, memahami dan mengamalkannya." (Selesai ucapan Thurthusyi).
c. Membelanya
Selanjutnya Imam Qurthubi mengatakan :"Seseorang tidak akan bisa membela Al Qur'an, kecuali kalau dia memahami isinya". (Selesai Ucapan Imam Qurthubi). Baik dari segi bahasa (nahwu, sharaf dan lain-lain) atau tafsirnya. Bagi orang yang lemah dalam hal-hal tersebut biasanya ketika diterpa badai syubhat dari ahlul bid'ah, dia akan tenggelam.
Membela Al Qur'an bisa dalam banyak hal. Yaitu dalam semua perkara yang telah diterangkan Allah dalam Al Qur'an. Yang terpenting adalah dalam hal-hal yang berkaitan dengan perkara I'tiqad dan hukum." (Sumber yang sama).
d. Mengajarkannya
Pada point berikutnya beliau berkata :"Mengajarkan Al Qur'an mengandung keutamaan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,
”Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ad-Darimi).
e. Memuliakannya
Memuliakan Al Qur'an ketika membacanya berarti kita harus beradab ketika itu, seperti dalam keadaan wudhu, tidak bersandar dan tidak duduk seperti orang yang sombong.
Memuliakan Al Qur'an bukan hanya seperti yang dipahami oleh orang-orang awam yaitu dengan meletakkannya di tempat yang bersih, melainkan dibaca dan diamalkan setelah dipahami. Bahkan kadang-kadang ada rumah kaum muslimin yang tidak memiliki Al Qur'an.
Kalaupun punya, diletakan dalam lemari dan disimpan tanpa pernah disentuh.
f. Berakhlaq Dengan Al Qur’an
Manusia yang telah mengamalkan Al-Qur'an adalah Rasulullah Shalallau 'alaihi wa sallam. Bila kita ingin mengamalkan Al-Qur'an dan berakhlak dengannya maka hendaknya kita melihat Akhlak beliau. Hal itu pernah diucapkan oleh Aisyah radliyallahu'anha –Ibu kaum muslimin-, “Akhlak Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam adalah Al Qur'an” (HR.Muslim no. 746).

3. Nasehat Bagi Rasul-Nya
Imam Al-Qurthubi dalam tafsir itu juga menyatakan bahwa maksud nasehat kepada Rasulullah Shalallhu 'alaihi wasallam adalah :
a. Membenarkan kenabiannya.
b. Iltizam taat kepadanya dalam larangan dan perintah.
c. Mencintai orang yang mencintainya dan membenci orang yang membencinya.
d. Menghormatinya.
e. Mencintai beliau dan keluarganya.
f. Mengagungkan beliau.
g. Mengagungkan sunnah beliau.
h. Menghidupkan sunnahnya setelah wafatnya dengan:
- Membahasnya.
- Memahaminya.
- Membelanya.
- Menyebarkannya.
- Berdakwah kepadanya.
i. Berakhlak dengan akhlak beliau yang mulia (8/227).

4.Nasehat Bagi Para Pemimpin Kaum Muslimin
Maksudnya adalah sebagaimana yang dinyatakan oleh Al Hafidh Ibnu Hajar dalam Al Fath I/167 : "Membantu mereka pada perkara yang mereka pikul, mengingatkan mereka ketika lupa atau lalai, menutup kesalahan mereka ketika bersalah, menyatukan suara untuk mereka, mengembalikan hati-hati yang lari kepada mereka dan nasehat terbesar bagi mereka adalah menyelamatkan mereka dari kezhaliman dengan cara yang baik.
Termasuk pemimpin kaum muslimin adalah para imam mujtahidin. Nasehat untuk mereka adalah dengan menyebarkan iilmu mereka dan menyebarkan kebaikan-kebaikan mereka serta berbaik sangka kepada mereka." (Fathul Bari).
Menurut Imam Qurthubi : " Maksudnya tidak memberontak kepada mereka, membimbing mereka kepada kebenaran, mengiatkan mereka tentang perkara kaum muslimin yang mereka lalaikan, tetap taat kepada mereka dan menunaikan hak mereka yang wajib." (Tafsir Al-Qurthubi, 8/227).
Sedangkan Al Hafizh Ibnu Rajab berkata :"Maksudnya mencintai kebaikan, kecerdasan dan keadilan mereka, mencintai agar ummat ini bersatu di bawah kepemimpinan mereka, benci kalau terpecahnya ummat ini di bawah kepemimpinan mereka, beragama dengan taat kepada mereka dalam perkara taat kepada Allah, membenci orang-orang memiliki pendapat memberontak kepada mereka, mencintai kemulaan mereka dalam taat kepada Allah." (Iqadhul Himam).

5. Nasehat Bagi Kaum Muslimin
Imam Qurthubi berkata : "Maksudnya tidak memusuhi mereka, membimbing mereka, mencintai orang shalih diantara mereka, mendoakan kebaikan untuk mereka dan menginginkan agar mereka mendapat kebaikan."
Ibnu Hajar berkata : "Maksudnya menyayangi mereka, berusaha pada hal-hal yang bermanfaat bagi mereka, mengerjakan yang bermanfaat bagi mereka, menahan gangguan terhadap mereka, mencintai bagi mereka apa yang dicintainya bagi dirinya dan membenci bagi mereka apa yang dibencinya bagi dirinya."
Imam An-Nawawi berkata : " Maksudnya membimbing mereka menuju kebaikan di dunia dan akhirat mereka, tidak mengganggu mereka, mengajarkan kepada mereka yang tidak mereka ketahui tentang agama mereka, membantu mereka untuk itu dengan ucapan dan amalan, menutup aurat mereka, menolak bahaya terhadap mereka, mengusahakan agar mereka mendapat kebaikan, menyuruh mereka kepada yang ma'ruf, mencegah mereka dari yang mungkar dengan kasih sayang dan ikhlas, menyayangi mereka, menghormati yang tua dari mereka, menyayangi yang muda, selalu menasehati mereka, tidak menipu mereka, tidak dengki kepada mereka, mencintai bagi mereka apa yang dicintai bagi dirinya dari kebaikan, membenci bagi mereka apa yang dibenci bagi dirinya dari kejahatan dan kejelekan, membela harta dan kehormatan mereka serta yang selain itu dengan ucapan dan tindakan, menganjurkan mereka untuk berakhlak dengan seluruh apa yang telah kita sebutkan tadi, memberi semangat agar mereka melakukan amalan-amalan taat." (syarah shahih Muslim, 1/239).
"Dan termasuk jenis nasehat bagi Allah, kitab-Nya dan Rasul-Nya dan hal ini khusus bagi para ulama adalah membantah pendapat-pendapat yang sesat dengan Al Quran dan As-Sunnah dan menerangkan dalil-dalil keduanya kepada yang menentang dan begitu pula membantah ucapan-ucapan yang lemah dari para ulama karena ketergelinciran dengan berdasarkan dalil-dalil dari Al Qur'an dan As-Sunnah dan menerangkan hadits yang shahih atau dhaif serta rawi-rawinya, yang diterima dan yang ditolak." (Ibnu Rajab dalam Iqadhatul Himam hal.129).

Wallahu'alam bish-shawab.

YANG PENTING NIAT, CUKUPKAH ?

Oleh Al Ustadz Abu Khaulah Zainal A

Dari Amiril Muminin Abi Hafsh Umar ibnu Al Khathab radhiyallahu anhu, berkata: ‘Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya amal-amal itu bergantung kepada niatnya. Dan setiap orang memperoleh sesuai dengan apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang dikejarnya atau wanita yang hendak ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia (niatkan) hijrah kepadanya.” (HR: Bukhari-Muslim)

Hadits di atas begitu popular di kalangan kaum muslimin. Sering sekali kita mendengar ucapan: “Yang penting niat. Bukankah niat kita baik” Dan sangat boleh jadi pengucapnya hanya tahu sedikit atau sebagian dari kaidah ini. Mungkin dia mendengar hanya potongan dari hadits ini yang diucapkan seseorang, mungkin juga lengkap tetapi telah disimpangkan pengertiannya oleh orang yang ia dengar darinya hadits ini. Akhirnya semakin jauhlah apa yang sering diucapkan kebanyakan kaum muslimin dengan maksud sesungguhnya dari hadits di atas, bahkan bertentangan sama sekali.
Sesungguhnya hadits ini sangat mulia dan keluar dari lisan manusia yang paling mulia. Oleh karenanya wajib bagi kita untuk mengetahui dan mempelajarinya, sebagaimana para ulama kita memberikan perhatiannya yang khusus terhadap hadits ini.
Beberapa komentar para ulama di bawah ini menunjukkan betapa agung dan pentingnya hadits ini di dalam Islam.
1. Imam Asy-Syafi’i, “Hadits Niat masuk di dalam tujuh puluh bab masalah-masalah fiqh.”
2. Imam Ahmad ibnu Hambal,”Pokok ajaran Islam terdapat pada tiga buah hadits. Hadits Umar (hadits yang kita bicarakan sekarang), Hadits Aisyah, dan Hadits Nu’man ibn Basyir.”
3. Imam Syaukani,” Hadits Niat merupakan sepertiga ilmu (-di dalam Islam-).
4. Imam Ibnu Rajab,”Hadits Niat merupakan timbangan bagi amalan batin, sedangkan Hadits Aisyah merupakan timbangan bagi amalah dzahir.”
5. Imam Abu Sa’id Abdurrahman ibnu Mahdi,” Siapa saja yang hendak menulis sebuah kitab, hendaknya ia membuka dan memulainya dengan membawakan Hadits Niat.”
Demikianlah di antara beberapa ucapan para ulama berkaitan dengan hadits Niat yang menunjukkan betapa mereka memberikan perhatian khusus terhadap hadits ini. Bahkan tidak sedikit yang menjadikan hadits ini sebagai perkara yang pertama dibahas di dalam tulisan mereka, yang antara lain dimaksudkan sebagai penghormatan terhadap hadits ini, agar para pencari ilmu membenarkan dan meluruskan niat mereka ketika mereka hendak mempelajari agama ini (Islam), dan juga tentunya masih banyak lagi faidahnya.
Mereka -yang memulai kitabnya dengan hadits ini- adalah Imam Al Bukhari (dalam Shahih-nya), Imam An-Nawawi (Riyadlush-Shalihin dan Al Arba’in-nya), Taqiyuddin Al Maqdisi (Umdatul Ahkam), dan Imam Asy-Syuyuthi (Jami’ush-Shaghir)
Di antara faidah, fiqh, atau hikmah yang dapat kita petik dari hadits ini -sebagaimana kita dapati dari keterangan para ulama- adalah:
1. Niat merupakan bagian dari Iman
Niat merupakan amalan hati. Sedangkan ta’rif (definisi) Iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah: Diyakini di dalam hati, diucapkan melalui lisan, dan dibuktikan dengan anggota badan dan perbuatan....Oleh karena nya pula Imam Bukhari meletakkan hadits ini di dalam Kitab Al Iman. Bukankah Allah subhanahu wa ta’aala mencatat niat-niat baik kita dengan pahala yang sempurna meskipun amalan tersebut belum kita wujudkan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sebagai berikut: “Maka barangsiapa yang bercita-cita hendak mengerjakan kebaikan tetapi belum mengamalkannya, Allah mencatat -bagi orang tersebut- di sisi-Nya dengan kebaikan yang sempurna” (Muttafaqun alaihi)
2. Wajib mengetahui hukum dari sebuah amalan sebelum mengerjakannya
Setiap muslim wajib mengilmui sesuatu sebelum mengamalkannya. Apakah amalan tersebut disyari’atkan atau tidak, apakah itu wajib atau semata mustahab (disukai)? Dan telah masyhur bagi kita (kaum muslimin) sebuah kaidah yang berbunyi: ‘Ilmu sebelum berkata dan bertindak’. Bahkan Imam Bukhari menulis demikian pada salah satu judul babnya. Dalilnya diambil dari Firman Allah:
“Maka ilmuilah bahwasanya tak ada yang berhak diibadahi kecuali ALLAH dan istighfarlah atas dosamu” (QS.Muhammad: 19)
Maka tidak layak bagi kita berkata, “Oh...jadi perbuatan saya itu salah, ya. Saya khan belum tahu hukumnya.” Terlebih lagi kalau itu perkara agama atau ibadah.
3. Disyaratkannya niat pada amalan-amalan ketaatan
Amalan taat yang tidak disertai dengan niat tidaklah dikatakan ketaatan. Begitu pula kebaikan-kebaikan tidaklah menjadi ibadah jika tidak disertai niat untuk beribadah. Karenanya pertama-tama perlu kita mengetahui apa fungsi niat bagi amal.
Sesungguhnya niatlah yang membedakan sebuah amalan. Pertama, dibedakannya amalan ibadah dengan kebiasaan atau yang bukan bersifat ibadah. Seseorang yang mandi keramas untuk kebersihan tak perlu berniat sebagaimana orang yang mandi keramas karena junub.
Kedua, dibedakannya antara ibadah yang sama satu sama lain. Jika kita dapati seseorang berpuasa di bulan Syawal, misalnya. Maka boleh jadi orang tersebut sedang membayar hutang puasanya, boleh jadi ia sedang puasa Syawal, atau boleh jadi ia sedang puasa sunnah lainnya. Yang membedakan dan menentukan untuk apa amalan tersebut adalah niatnya.
Ketiga, dibedakannya maksud dan tujuan sebuah amalan. Seseorang mengerjakan ketaatan bahkan perbuatan yang bersifat ibadah. Maka apakah perbuatan tersebut diniatkan untuk mendapatkan keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala atau mengharapkan selain dari itu ditentukan oleh niatnya.
4. Pentingnya ikhlas di dalam beramal.
Ada sebagian ulama yang menafsirkan makna Niat ini dengan Ikhlas. Yang demikian juga benar, karena artinya: Sesungguhnya amalan-amalan itu bergantung kepada keikhlasan pelakunya. Sebuah amal –betapapun baik atau bermanfaatnya itu- jika tidak dilandasi keikhlasan tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
“Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama ini semata-mata bagi-Nya...” (QS.Al Bayyinah: 5)
Sungguh Allah subhanahu wa ta’ala tidak membutuhkan keringat atau harta kita. Dan mengikhlaskan amalan semata-mata karena Allah merupakan wujud mentauhidkan Allah. Artinya, ikhlas juga merupakan sebuah tuntutan dan konsekuensi dari diciptakannya kita oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
Sayangnya, masih banyak orang yang salah mengerti tentang makna ikhlas. Menurut mereka, ikhlas itu artinya tidak menuntut apa-apa dari Allah subhanahu wa ta’ala. Bahkan mereka beranggapan bahwa, barangsiapa beribadah untuk mengharapkan surga maka itu ibadahnya pedagang. Dan barangsiapa beribadah karena takut akan neraka maka itu ibadahnya budak.
Ada lagi yang berkata, “Hendaknya kita malu untuk meminta-minta kepada Allah, karena Ia telah banyak memberikan segala sesuatu kepada kita. Apalagi, Allah Maha Mengetahui apa yang kita butuhkan tanpa harus kita meminta.”
Ada lagi yang lebih lancang -semoga Allah memberinya hidayah- dengan memperumpamakan ikhlas itu keadaannya seperti kita buang air besar, di mana kita tidak memperdulikan apa yang keluar dari perut kita dan bahkan kita merasa lega setelah membuangnya.
Alangkah berbahayanya ucapan ini dan alangkah buruknya perumpamaan yang mereka berikan. Pertama, mereka telah mendustakan janji-janji dan ancaman-ancaman Allah. Lantas buat apa Allah subhanahu wa ta’ala menjanjikan kita surga dan menakut-nakuti kita dengan neraka, jika ibadah kita bukan karena itu?
Kedua, mereka menantang kemurkaan Allah dan menolak keridhaan-Nya. Dan jika orang tersebut tidak bertobat dari keyakinannya, sangat boleh jadi ia tak akan masuk surga karena memang ia tak mengharapkannya, dan ia akan dimasukkan ke neraka karena mengatakan tidak takutnya kepada neraka. Allah subhanahu wa ta’ala menggambarkan ikhlas dengan perumpamaan yang baik, sedang mereka menggambarkannya dengan perumpamaan yang buruk.
Ketiga, menyelisihi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan merasa lebih baik dari beliau shallallahu 'alaihi wasallam. Bukankah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam saja berdoa ,” Ya, Allah. Aku mengharapkan ridha-Mu dan Surga. Dan aku berlindung dari murka-Mu dan Neraka.”
Keempat, melecehkan perintah Allah subhanahu wa ta’ala. Bukankah Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan hamba-Nya agar berdoa,
“Dan berkata Rabb kalian: “Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya Kupenuhi untuk kalian...” (QS.Al Mu’min: 60)

Hendaknya kita senantiasa memperhatikan gerak hati kita, karena keikhlasan kita senantiasa diuji. Pertama, sebelum beramal, yakni berupa niat. Kepada siapa dan karena apa kita niatkan amalan kita?
Kedua, ketika tengah beramal. Boleh jadi amalan yang semula lhklas terganggu disebabkan ada kejadian-kejadian khusus dan tak terduga. Sebagai contoh, kita marah ketika ucapan salam kita tidak dijawab, atau sedekah kita ditolak mentah-mentah, atau kita tambah bersemangat ketika tahu amalan kita ada yang memperhatikan.
Ketiga, ketika amal telah berlalu. Tanpa sadar setelah mungkin bertahun-tahun kita sembunyikan, tiba-tiba dalam sebuah obrolan kita bangkit-bangkitkan jasa kita dahulu.
5. Baik buruknya amal bergantung kepada niat pelakunya
Sebuah amal kebaikan akan menjadi ibadah yang diterima manakala diniatkan dengan niat yang baik, berupa keikhlasan, dan akan menjadi buruk manakala diniatkan dengan niat buruk, berupa ksyirikan -baik kecil apalagi besar-. Akan tetapi seseorang tidak boleh menghalalkan yang haram semata-mata dengan alasan baiknya niat. Dan berangkat dari perkara inilah sesungguhnya judul tulisan di atas dibuat.
Di dalam hadits ini Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah memberikan pembatasan pada kata Amal, di mana yang dimaksudkan adalah amalan-amalan ketaatan. Apalagi kemudian beliau tegaskan dengan contoh Hijrah. Maka tidak boleh kita meng-qiyaskan amalan yang baik ini dengan amalan yang buruk, seperti mencuri misalnya.
Namun akhir-akhir ini manusia bermudah-mudahan mengatakan, “Yang penting niat.” Atau ,”Niat kita kan baik.” Maka kemudian ditempuhlah segala cara, dihidupkanlah segala macam yang tidak disyari’atkan, dan ditempuhlah segala jalan yang tidak ada sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam padanya. Semua atas nama baiknya niat. Cukupkah itu? Cukupkah segala sesuatu hanya dengan alasan baiknya niat? Sungguh tak ada satupun manusia di muka bumi ini yang mengaku punya niat buruk. Bukankah para penjahat juga jika ditanya kenapa ia melakukan kejahatan itu, niscaya mereka mengatakan bahwa niat mereka baik -untuk menafkahi anak dan isteri-.
Seandainya memang amalan yang buruk atau jahat itu bisa menjadi baik karena niat dan yang haram bisa menjadi halal (bukan dalam hal darurat) juga karena niat, maka apa bedanya ajaran yang suci ini (Islam) dengan Machiavalisme, sebuah falsafah -Tujuan Menghalalkan Cara- yang digagas oleh si kafir Nicolo Machiavale?.
Maka hendaknya berhati-hati dalam mengatakan (“Yang penting niat.”) atau (“Niat kita kan baik.”). Boleh jadi yang mengucapkan mengira dia mengutip hadits yang mulia dan menganggap dirinya sedang mengagungkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, padahal tanpa ia sadari ia sedang mengutip filsafat hina dan sedang mengagungkan si kafir tadi. (Na’udzubillah).

Penutup
Masih banyak faidah, fiqh, atau hikmah yang dapat kita petik selain yang telah disebutkan di atas seperti, keutamaan hijrah, balasan sesuai amalan, atau syarat diterimanya ibadah. Namun kami cukupkan pembahasan di dalam perkara yang berkaitan langsung dengan judul di atas dan dengan permasalahan yang hendak kami bahas.
Dengan melihat bagaimana para ulama berkomentar tentang hadits ini, tidak sedikitnya kitab-kitab yang diawali dengan hadits ini -bahkan itu semua adalah kitab-kitab yang terkenal-, dan begitu banyaknya ulama belakangan yang menguraikannya, cukuplah ketidakhafalan dan ketidakpahaman kita akan hadits ini sebagai bukti ketidakseriusan kita dalam beragama.

MOTIVASI UNTUK SABAR

Oleh Ustadz Abu Rosyid Ash-Shinkuan

Ayat-ayat Al Qur'an tentang Sabar
Allah Ta'ala berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung." (QS.Ali 'Imraan: 200)
Dan Allah Ta'ala berfirman:
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS.Al-Baqarah: 155)
Dan Allah Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS.Az-Zumar: 10)
Dan Allah Ta'ala berfirman:
"Tetapi orang yang bersabar dan mema`afkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan." (QS.Asy-Syuuraa: 43)
Dan Allah Ta'ala berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS.Al-Baqarah: 153)
Dan Allah Ta'ala berfirman:
"Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar diantara kalian." (QS.Muhammad: 31)
Dan ayat-ayat yang memerintahkan sabar dan menerangkan keutamaannya sangat banyak dan dikenal.

Pengertian dan Jenis-jenis Sabar
Ash-Shabr (sabar) secara bahasa artinya al-habsu (menahan), dan diantara yang menunjukkan pengertiannya secara bahasa adalah ucapan: "qutila shabran" yaitu dia terbunuh dalam keadaan ditahan dan ditawan. Sedangkan secara syari'at adalah menahan diri atas tiga perkara: yang pertama: (sabar) dalam mentaati Allah, yang kedua: (sabar) dari hal-hal yang Allah haramkan, dan yang ketiga: (sabar) terhadap taqdir Allah yang menyakitkan.
Inilah macam-macam sabar yang telah disebutkan oleh para 'ulama. Jenis sabar yang pertama, yaitu hendaknya manusia bersabar terhadap ketaatan kepada Allah, karena sesungguhnya ketaatan itu adalah sesuatu yang berat bagi jiwa dan sulit bagi manusia. Memang demikianlah kadang-kadang ketaatan itu menjadi berat atas badan sehingga seseorang merasakan adanya sesuatu dari kelemahan dan keletihan ketika melaksanakannya. Demikian juga padanya ada masyaqqah (sesuatu yang berat) dari sisi harta seperti masalah zakat dan masalah haji.
Yang penting, bahwasanya ketaatan-ketaatan itu padanya ada sesuatu dari masyaqqah bagi jiwa dan badan, sehingga butuh kepada kesabaran dan kesiapan menanggung bebannya, Allah berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung." (QS.Ali 'Imraan: 200)
Allah juga berfirman
"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya." (QS.Thaha: 132)
"Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qur'an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu." (QS.Al-Insan: 23-24)
Ayat ini menerangkan tentang sabar dalam melaksanakan perintah-perintah, karena sesungguhnya Al-Qur`an itu turun kepadanya agar beliau (Rasulullah) menyampaikannya (kepada manusia), maka jadilah beliau orang yang diperintahkan untuk bersabar dalam melaksanakan ketaatan.
Dan Allah Ta'ala berfirman:
"Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya." (QS.Al-Kahfi: 28)
Ini adalah sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah.
Jenis sabar yang kedua, yaitu bersabar dari hal-hal yang Allah haramkan sehingga seseorang menahan jiwanya dari apa-apa yang Allah haramkan kepadanya, karena sesungguhnya jiwa yang cenderung kepada kejelekan itu akan menyeru kepada kejelekan, maka manusia perlu untuk mengekang dan mengendalikan dirinya, seperti berdusta, menipu dalam bermuamalah, memakan harta dengan cara yang bathil, dengan riba dan yang lainnya, berbuat zina, minum khamr, mencuri dan lain-lainnya dari kemaksiatan-kemaksiatan yang sangat banyak.
Maka kita harus menahan diri kita dari hal-hal tadi jangan sampai mengerjakannya dan ini tentunya perlu kesabaran dan butuh pengendalian jiwa dan hawa nafsu.
Diantara contoh dari jenis sabar yang kedua ini adalah sabarnya Nabi Yusuf 'alaihis salaam dari ajakan istrinya Al-'Aziiz (raja Mesir) ketika dia mengajak (zina) kepadanya di tempat milik dia, yang padanya ada kemuliaan dan kekuatan serta kekuasaan atas Nabi Yusuf, dan bersamaan dengan itu Nabi Yusuf bersabar dan berkata:
"Yusuf berkata: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh." (QS.Yusuf: 33)
Maka ini adalah kesabaran dari kemaksiatan kepada Allah.
Jenis sabar yang ketiga, yaitu sabar terhadap taqdir Allah yang menyakitkan (menurut pandangan manusia).
Karena sesungguhnya taqdir Allah 'Azza wa Jalla terhadap manusia itu ada yang bersifat menyenangkan dan ada yang bersifat menyakitkan.
Taqdir yang bersifat menyenangkan; maka butuh rasa syukur, sedangkan syukur itu sendiri termasuk dari ketaatan, sehingga sabar baginya termasuk dari jenis yang pertama (yaitu sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah). Adapun taqdir yang bersifat menyakitkan; yaitu yang tidak menyenangkan manusia, seperti seseorang yang diuji pada badannya dengan adanya rasa sakit atau yang lainnya, diuji pada hartanya –yaitu kehilangan harta-, diuji pada keluarganya dengan kehilangan salah seorang keluarganya ataupun yang lainnya dan diuji di masyarakatnya dengan difitnah, direndahkan ataupun yang sejenisnya.
Yang penting bahwasanya macam-macam ujian itu sangat banyak yang butuh akan adanya kesabaran dan kesiapan menanggung bebannya, maka seseorang harus menahan jiwanya dari apa-apa yang diharamkan kepadanya dari menampakkan keluh kesah dengan lisan atau dengan hati atau dengan anggota badan.
Allah berfirman:
"Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu." (QS.Al-Insan: 24)
Maka masuk dalam ayat ini yaitu hukum Allah yang bersifat taqdir.
Dan diantara ayat yang menjelaskan jenis sabar ini adalah firman Allah:
"Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka." (QS.Al-Ahqaf: 35)
Ayat ini menerangkan tentang kesabaran para rasul dalam menyampaikan risalah dan dalam menghadapi gangguan kaumnya.
Dan juga diantara jenis sabar ini adalah ucapan Rasulullah kepada utusan salah seorang putri beliau:
"Perintahkanlah kepadanya, hendaklah bersabar dan mengharap pahala kepada Allah (dalam menghadapi musibah tersebut)." (HR.Bukhariy dan Muslim)

Keadaan Manusia Ketika Menghadapi Musibah
Sesungguhnya manusia di dalam menghadapi dan menyelesaikan musibah ada empat keadaan:
Keadaan pertama: marah
Keadaan kedua: bersabar
Keadaan ketiga: ridha
Keadaan keempat: bersyukur.
Inilah empat keadaan manusia ketika ditimpa suatu musibah.
Adapun keadaan pertama: yaitu marah baik dengan hatinya, lisannya ataupun anggota badannya.
Adapun marah dengan hatinya yaitu dalam hatinya ada sesuatu terhadap Rabbnya dari kemarahan, perasaan jelek atau buruk sangka kepada Allah - dan kita berlindung kepada Allah dari hal ini- dan yang sejenisnya bahkan dia merasakan bahwa seakan-akan Allah telah menzhaliminya dengan musibah ini.
Adapun dengan lisan, seperti menyeru dengan kecelakaan dan kebinasaan, seperti mengatakan: "Duhai celaka, duhai binasa!", atau dengan mencela masa (waktu), yang berarti dia menyakiti Allah 'Azza wa Jalla dan yang sejenisnya.
Adapun marah dengan anggota badan seperti menampar pipinya, memukul kepalanya, menjambak rambutnya atau merobek bajunya dan yang sejenis dengan ini.
Inilah keadaan orang yang marah yang merupakan keadaannya orang-orang yang berkeluh kesah yang mereka ini diharamkan dari pahala dan tidak akan selamat (terbebas) dari musibah bahkan mereka ini mendapat dosa, maka jadilah mereka orang-orang yang mendapatkan dua musibah: musibah dalam agama dengan marah dan musibah dalam masalah dunia dengan mendapatkan apa-apa yang tidak menyenangkan.
Adapun keadaan kedua: yaitu bersabar terhadap musibah dengan menahan dirinya (dari hal-hal yang diharamkan), dalam keadaan dia membenci musibah dan tidak menyukainya dan tidak menyukai musibah itu terjadi akan tetapi dia bersabar (menahan) dirinya sehingga tidak keluar dari lisannya sesuatu yang dibenci Allah dan tidak melakukan dengan anggota badannya sesuatu yang dimurkai Allah serta tidak ada dalam hatinya sesuatu (berprasangka buruk) kepada Allah selama-lamanya, dia tetap bersabar walaupun tidak menyukai musibah tersebut.
Adapun keadaan ketiga: yaitu ridha, di mana keadaan seseorang yang ridha itu adalah dadanya lapang dengan musibah ini dan ridha dengannya dengan ridha yang sempurna dan seakan-akan dia tidak terkena musibah tersebut.
Adapun keadaan keempat: bersyukur, yaitu dia bersyukur kepada Allah atas musibah tersebut, dan adalah keadaannya Rasulullah apabila melihat sesuatu yang tidak disukainya, beliau mengatakan:
"Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan."
Maka dia bersyukur kepada Allah dari sisi bahwasanya Allah akan memberikan kepadanya pahala terhadap musibah ini lebih banyak dari apa-apa yang menimpanya.
Dan karena inilah disebutkan dari sebagian ahli ibadah bahwasanya jarinya terluka lalu dia memuji Allah terhadap musibah tersebut, maka orang-orang berkata: "Bagaimana engkau memuji Allah dalam keadaan tanganmu terluka?" Maka dia menjawab: "Sesungguhnya manisnya pahala dari musibah ini telah menjadikanku lupa terhadap pahitnya rasa sakitnya."

Tingkatan Sabar
Sabar itu ada tiga macam, yang paling tingginya adalah sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah, kemudian sabar dalam meninggalkan kemaksiatan kepada Allah, kemudian sabar terhadap taqdir Allah. Dan susunan ini ditinjau dari sisi sabar itu sendiri bukan dari sisi orang yang melaksanakan kesabaran, karena kadang-kadang sabar terhadap maksiat lebih berat bagi seseorang daripada sabar terhadap ketaatan, apabila seseorang diuji contohnya dengan seorang wanita yang cantik yang mengajaknya berbuat zina di tempat yang sunyi yang tidak ada yang melihatnya kecuali Allah, dalam keadan dia adalah seorang pemuda yang mempunyai syahwat (yang tinggi), maka sabar dari maksiat seperti ini lebih berat bagi jiwa. Bahkan kadang-kadang seseorang melakukan shalat seratus raka'at itu lebih ringan daripada menghindari maksiat seperti ini.
Dan terkadang seseorang ditimpa suatu musibah, yang kesabarannya dalam menghadapi musibah ini lebih berat daripada melaksanakan suatu ketaatan, seperti seseorang kehilangan kerabatnya atau temannya ataupun istrinya. Maka engkau akan dapati orang ini berusaha untuk sabar terhadap musibah ini sebagai suatu kesulitan yang besar.
Akan tetapi ditinjau dari kesabaran itu sendiri maka tingkatan sabar yang tertinggi adalah sabar dalam ketaatan, karena mengandung ilzaaman (keharusan) dan fi'lan (perbuatan). Maka shalat itu mengharuskan dirimu lalu kamu shalat, demikian pula shaum dan haji… Maka padanya ada keharusan, perbuatan dan gerakan yang padanya terdapat satu macam dari kepayahan dan keletihan.
Kemudian tingkatan kedua adalah sabar dari kemaksiatan karena padanya hanya ada penahanan diri yakni keharusan bagi jiwa untuk meninggalkannya.
Adapun tingkatan ketiga, sabar terhadap taqdir, maka sebabnya bukanlah dari usaha seorang hamba, maka hal ini bukanlah melakukan sesuatu ataupun meninggalkan sesuatu, akan tetapi semata-mata dari taqdir Allah. Allahlah yang memberi taufiq.

(Diringkas dari Al-Qaulul Mufiid dan Syarh Riyaadhush Shaalihiin)

(Sumber: Bulletin Al Wala' wa Bara', Edisi ke-5 Tahun ke-3/24 Desember 2004 M/12 Dzul Qo'dah 1425 H. Judul asli Sabar, Suatu Kemestian. Diterbitkan Yayasan Forum Dakwah Ahlussunnah Wal Jamaah Bandung)

Nasihat Syaikh Rabi' bagi pengelola situs Internet

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, shalawat serta salam bagi Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, keluarga, para sahabatnya dan mereka yang mengikuti petunjuk Beliau.

Amma ba’du
Sesungguhnya dengan sebab perkara yang menimpa Islam dan kaum muslimin berupa kejadian-kejadian yang suram, kehinaan dan keterpurukan di hadapan musuh-musuh Islam. Nasib kaum muslimin di depan musuh-musuhnya bagaikan santapan -di nampan - di hadapan para pemangsanya. Maka kami menyeru kepada para ulama kaum muslimin dan lembaga-lembaga ilmiah di tiap-tiap daerah yang ada di penjuru dunia, juga pemerintah kaum muslimin agar semuanya bertaqwa kepada Allah tentang kondisi ummat dewasa ini.
Hendaklah mereka mengetahui betapa ummat ini terancam mara bahaya, bahkan tertimpa bencana dan malapetaka. Hendaklah mereka tersadar akan tanggung-jawab di hadapan Allah untuk menyelamatkan ummat ini dari bala' (malapetaka) dan kecelakaan yang menimpa mereka kemudian bersegera mencurahkan daya dan upayanya dengan melaksanakan sebab-sebab yang dapat membantu mereka keluar (dari malapetaka ini). Diantaranya yang terpenting adalah kembali kepada agama mereka yang benar baik di dalam aqidah, ibadah, akhlaq dan siyasah (strategi/politik yang syar’i).
Hendaklah mereka berpegang teguh dengan manhaj yang benar yang bersandarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul serta apa yang dipahami oleh salafus shalih di dalam mendidik generasi (ummat ini) di masjid-masjid serta lembaga pendidikan di berbagai jenjang dengan memanfaatkan berbagai sarana informasi yang ada, sambil selalu mengingat sabda Rasulullah :
كلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته
Artinya : “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung-jawaban tentang kepemimpinannya”. (HR Ibnu Majah dari Anas radiyallahu ‘anhu)

Juga sabda Rasul shalallahu alaihi wa sallam:
إذا تبايعتم بالعينة ورضيتم بالزرع واتبعتم أذناب البقر وتركتم الجهاد في سبيل الله سلط الله عليكم ذلاً لا ينزعه عنكم حتى ترجعوا إلى دينكم
Artinya : “Jika kalian telah melakukan jual beli dengan cara ‘inah (sejenis riba, pent), telah larut dalam bercocok tanam, mengikuti ekor-ekor lembu dan meninggalkan jihad di jalan Allah, maka Allah akan menimpakan atas kalian kehinaan yang tidak akan tercabut kehinaan itu sampai kalian kembali kepada ajaran agama kalian (Islam, pent). (HR Abu Dawud dari Ibnu Umar)”

Tidak diragukan bahwa ummat ini terjatuh pada keterpurukan di dalam beberapa perkara bahkan terjatuh pada kondisi yang sangat pahit. Para pemimpin ummat ini (ulama, pemerintah dan lembaga-lembaga ilmiah) agar selalu mengingat firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (QS. Al-Ahzab: 36)

Ketahuilah bahwa sama sekali tidak ada jalan bagi kalian untuk menyelamatkan ummat ini kecuali dengan cara ini (kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul dengan pemahaman salafussholih, pent). Dan apabila mengambil jalan selain itu, maka tidak akan bertambah kepada ummat ini kecuali kebinasaan dan kehinaan.

Sungguh musuh-musuh Islam tidaklah rela melainkan ingin agar mereka keluar dari agamanya. Aku memohon kepada Allah yang Maha Mulia Rabb Arsy yang Agung agar memberikan taufik kepada ummat ini baik pemerintah muslim, ulama maupun rakyatnya untuk bersegera melakukan sebab-sebab yang bermanfaat dimana Allah tidak akan menerima selainnya.

Mudah-mudahan Allah menyatukan hati ummat Islam dan kalimat mereka di atas al-haq (kebenaran). Pada kesempatan ini aku tujukan nasehatku kepada mereka yang diberi taufik oleh Allah -untuk mengikuti manhaj salafusshaleh agar bertaqwa kepada Allah dan memantau diri mereka lahir maupun batin, mengikhlaskan pada Allah baik ucapan maupun perbuatan mereka. Juga bersegera untuk menuntut ilmu yang bermanfaat.

Kemudian aku nasehatkan kepada pengelola situs internet, agar menjadikan situs internet ini sebagai sarana yang efektif untuk menyebarkan manhaj salafi secara ilmiah dan benar pada setiap materi yang disuguhkan pada kaum muslimin melalui sarana ini yang dipermudah untuk mereka. Hendaknya yang menanganinya adalah para ulama manhaj salafy ini, khususnya yang menguasai bidangnya masing-masing. Maka yang menguasai bidang tafsir Al-Qur’an, hendaklah menulis tentang tafsir; ilmu-ilmunya, hendaklah menyinggung (pembahasan) dengan aqidah dan macam-macamnya, ibadah, mu’amalah serta akhlaq, di celah-celah ayat yang ia tafsirkan, demikian pula pembahasan tentang ushulut tafsir (pokok-pokok) dan macam-macamnya. Kemudian yang ahli dalam bidang hadits hendaklah menulis makalah-makalah yang terambil dari sunnah Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam serta terfokus dalam masalah aqidah dan yang lainnya, seperti yang telah saya sebutkan atas saudaranya yang menguasai tafsir tadi sebagaimana iapun semestinya menulis tentang ilmu musthalahul hadits dan biografi para ulama hadits.

Bagi yang menguasai bidang fiqih, hendaknya dia menulis makalah yang berkaitan dengan bidang ini, memilih pembahasan yang membantu para penuntut ilmu di dalam memahami Al-Qur an dan Sunnah Rasulullah shallallhu’alaihi wasallam serta membahas masalah fiqh yang disertai dalil. Bagi yang menguasai bidang tarikh (sejarah), hendaklah dia menulis sejarah Nabi shallallhu’alaihi wasallam, para sahabatnya dan figur para ulama ummat ini yang terbukti nyata dalam pembelaannya terhadap Islam. Kemudian yang menguasai bacaan (Al Qur’an) dan tajwid, hendaklah menulis makalah di bidang ini, juga yang menguasai bidang bahasa, hendaklah menulis pembahasan makalah di bidang tersebut, dengan syarat menjauhkan perkara yang tidak dikenal dalam manhaj salafy ini seperti: Majaz dan semisalnya.
Hendaknya jangan melakukan bantahan terhadap ahlul bid’ah dan membongkar kesesatan mereka kecuali para ulama.

Saya berharap bagi para penanggungjawab situs Sahab dan yang lainnya, agar tidak menerima tulisan-tulisan kecuali yang benar-benar jelas menyebutkan namanya dan jangan menerima yang hanya menggunakan nama-nama yang tidak jelas (samaran). Demikian pula saya berharap kepada salafiyyin secara umum agar menjauhkan diri dari perdebatan yang batil dan sebab-sebab yang menyeret pada perpecahan. Kalaupun hal itu terjadi (di kalangan salafiyyin), maka jangan sampai memperbanyak perdebatan dan jangan sama sekali mencantumkan permasalahan ini pada situs internet Salafiyah atau yang lainnya. Namun segera dikembalikan kepada para ulama agar mereka membimbing dengan perkataan yang benar yang dapat menyelesaikan perselisihan ini, Insya Allah. Saya nasehatkan kepada ikhwah agar semangat dalam menyebarkan ilmu yang bermanfaat di antara mereka dan menyebarkan sebab-sebab yang dapat mengantarkan kecintaan dan persaudaraan di antara mereka.

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan taufik kepada semuanya terhadap apa yang dicintai dan diridhaiNya serta menyatukan hati-hati mereka. Sesungguhnya Rabbku Maha Mendengar (mengabulkan ) doa.

Penulis: Asy-Syaikh Al Allamah Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali
25 Dzulhijjah 1424 H. Makkah Al-Mukarramah

Jumat, 25 Januari 2008

HUKUM WANITA MENGENDARAI SEPEDA MOTOR

Oleh Asy-Syaikh Yahya Al Hajuriِ

Soal :
Apa hukumnya seorang wanita mengendarai sepeda motor atau menyetir mobilnya sendirian yang tentunya kondisi yang demikian dapat menyingkap bentuk tubuhnya disebabkan terpaan angin yang mengenainya ketika mengendarainya?
Jawab :
Benar, sesungguhnya hal-hal demikian akan dihadapi wanita tersebut -di saat menyetir mobilnya- berupa perkara-perkara baik kecelakaan atau sebagai bahan tontonan orang yang lewat atau di saat dia tidak mampu mengendarai kendaraannya dengan baik. Mereka sebagaimana perkataan Rasulullah shalallahu 'alaih wa aalihi wa sallam:
« ناقصات الدين والعقل »
"Kurang akal dan agamanya (yaitu wanita)"
Dan hal ini tidak diragukan lagi, sehingga terkadang apabila dihadapkan kepada wanita tersebut suatu peristiwa di jalan raya seperti tabrakan, dapat menyebabkan salah mengendalikan mobilnya yang dapat menyebabkan terjadinya peristiwa-peristiwa yang lebih membahayakan kaum muslimin. Demikian pula pada mengendarai sepeda motor, sesungguhnya kondisinya lebih buruk lagi, yakni posisi yang kurang baik ketika mengendarainya. Oleh karena itu, kami nasihatkan untuk menjauhi hal yang demikian.
Karena terkadang menyeretnya untuk keluar ke tempat-tempat yang jauh. Padahal sepantasnya seorang wanita senantiasa berada di sekitar rumahnya dan tidak berhias seperti wanita-wanita jahiliyah berhias dahulu. Dan tidak keluar kecuali bersama mahramnya. Bahkan terkadang perjalanan yang dia tempuh termasuk kategori safar tanpa dia sadari. Karena perhitungan cepatnya laju kendaraan dalam keadaan safar tanpa mahram. Padahal Rasulullah shalallahu 'alaih wa aalihi wa sallam berkata:
« لاَ يحل للمرأة تؤمن بالله واليوم الآخر أن تسافر إلا مع ذي محرم »
"Tidaklah halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk berpergian melainkan beserta mahramnya" (Mutafaqun 'alaihi dari Ibnu Umar, Abu Hurairah dan lainnya).
Contohnya adalah safar yang terjadi di negeri-negeri barat yang mereka lakukan dari Birmingham sampai ke London. Sesungguhnya yang demikian ini masuk kategori safar, dan kita telah melihat beberapa wanita muslimah menyetir mobilnya dengan jarak tempuh perjalanan yang jauh sampai ke tempat tersebut sendirian. Dan meninggalkan perkara ini lazim bagi mereka.

Sumber :
Fatwa-fatwa Asy-Syaikh Yahya atas Pertanyaan Manca
www.ahlussunnah-jakarta.com

Diperbolehkan mengkopi artikel dengan menyertakan sumbernya.

Senin, 21 Januari 2008

Aku Rindu

Aku rindu suasana dahulu...

Ketika mata tak saling pandang..

Ketika wajah malu tuk bertatap...

Ketika suara takut terdengar manja...


Aku rindu suasana dahulu..

Ketika hijab tak sekedar simbolitas ataupun formalitas

Ketika lantunan nasyid izis, seperti yang sering diputar...

Seiring dengan itu

akupun rindu akan terdengarnyamurotal setiap ku masuk ruangan ini


Aku rindu suasana dahulu...

Dimana canda dan tawa tak tampak dalam setiap syuro’-syuro’yang ada,, tanpa ketegangan

akupun rindu pada setiap taujih yang seringkali keluar dari bibir saudaraku,

dengan santun dan penuh hikmah untuk bisa mengingatkanku ketika salah dan lupa kuperbuat.


Aku rindu suasana dahulu

Ketika kita tak saling mencela,, sampai-sampai kita takut

Kalau-kalau pernah menyinggung perasaan saudara.

Aku juga rindu akan ukhuwah yang kita tampakkan,

yang tak sekedar kita ucapkan hanya untuk pemanis bibir.


Ruangan ini dulu sering tertata rapi

Sampai-sampai predikat juara sekretasiat terbersihpun klita raih


Aku rindu suasana dahulu

Orang boleh berkata ”itu kan dulu” tapi bagiku justru itu...

Kenangan indah itulah yang membentuk pribadiku

Yang telah menyadarkan aku bahwa apa yang melekat pada diri kita....

nafas, darah, air,, apapun... semua adalah amanah yang dibebankan pada pundak kita.


Justru kenangan itulah yang menyadarkan aku tentang hakikat hidup ini,

tentang islam ini, tentang dakwah ini.....


Justru karena kenangan manis itulah....

aku mulai fasih mengucapkan "ana" dan" antum" yang sebelumnya jarang

dan bahkan tak pernah kuucapkan ataupun kata-kata "ikhwan" dan "akhwat".


Justru karena kenangan indah itu

aku jadi tahu bgaimana seharusnya aku bergaul dan membawa diri

di tengah-tengah masyarakat dan teman-teman yang heterogen.


Justru karena kenangan tak terlupakan itu

kutahu batasan pergaulan dengan lawan jenisku dan

semenjak itu kuputus pacarku...karena kutahu...

Lucu terkadang ketika kuingat saat-saat kutak berani menatap lawan jenisku

dikala berbicara dengannya,

sampai-sampai kita hanya saling ”memunggungi”,dan saat ku toleh dia sudah tak ada,,

aku jadi keki ternyata aku hanya ngomong sendiri....


Semua begitu indah..

Ketika militansi benar-benar menjadi semangat gerak kami,,

berteriak lantang terhadap kegiatan mahasiswa yang tidak syar’i,

yang bersifat hedonis,,, takbir seringkali menggema..


Dulu tak ada komputer, lokerrr....dlll.

Dulupun hanya ada papan tulis kecil yang setia menemani kita

Dalam setiap syuro-syuro kita, saking kecilnya...

kita harus rela untuk sering memindah dari ikhwan ke akhwat....

Dulu juga masih jarang yang punya HP, sehingga komunikasipun waktunya terbatas,,

(sekarang sms sepanjang waktu tak ada orang yang tahu....)

dulu itu tak banyak yang punya kendaraaan ata sepeda motor,

namun semangat kita tak pernah luntur atau loyo untuk tetap berdakwah.....


Bersambung yaaa......



From : Buku Curhat forsika

Selasa, 15 Januari 2008

Kesalahan Yang Telah Menjadi Kebiasaan

Fakultas Pertanian Unibraw Malang, Pagi hari itu cuaca tampak cerah, matahari bersinar dengan senyuman, menghangatkan kota malang yang sejak malam kedinginan (emang gak pake selimut) hanya segelintir awan yang bergerak pelan tertiup angin (wuussss).. diiringi daun-daun yang berguguran kadang-kadang pohonnya juga gugur ;). Sekilas kampusku ini bak taman bunga yang indah, maklum namanya juga fakultas pertanian berjubel jenis tanaman terpajang disana.. (kecuali bunga raflesia, hehehe). Wuaahh segar rasanya.
Berlalu lalang, orang-orang disini sudah menjadi pemandangan umum.. baek yang kuliah, ngerjain tugas ato sekedar nongkrong di kantin ma gazebo. Ne dia gambaran kebiasaan penghuni fakultas pertanianku yang tercinta, terhormat dan terbanggakan.
Disini orang-orang duduk berduaan dengan non muhrim?? gak jadi masalah kan udah biasa!!
Kalo pulang boncengan dengan non muhrim?? gak jadi masalah kan udah biasa!!!
Adzan di kumandangkan, ehh gazebo koq masih rame,, (padahal banyak cowok muslimnya??) gak jadi masalah kan udah biasa!!!!
Disini banyak muslimah non berjilbab ato berjilbab tapi telanjang (afwan kalo kasar), Gak jadi masalah kan udah biasa!!!
Kalo da kajian di Masjid pertanian pasti sepi, gak jadi masalah kan udah biasa!!!
Gimana?? siip kan kampusku, inilah generasi penerus bangsa yang akan memajukan bangsa ini?? (kejurang kehancuran). Abiz banyak banyak banget kebiasaan yang dianggap biasa padahal hal itu bisa membuat masalah, ato bahkan bisa mengundang murka Allah.

"Barangsiapa melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya. jika ia tidak mampu. hendaklah ia mengubah dengan lisannya. jika ia tidak mampu , maka dengan hatinya. dan itulah selemahnya-lemahnya iman". (H.r. Muslim)

Gimana?? masihkah kita biarkan kebiasaan-kebiasaan itu mengakar dalam darah daging kaum muslimin!!! (gak usah muluk-muluk khususnya di FP ajalah)... Wahai Para Dai Allah Di mana Suaramu!!!!, Mana Keberanianmu!!!! (Gak Malu ma Nabi Ibrahim, bahkan hingga diancam akan dibakarpun Beliau tetap manggaungkan asma Allah). Subhanallah. Ayo terus berjuang Akhi wa Ukhti, jangan menyerah apapun hasilnya,, Serahkan hasilnya sama Allah. Yang Jelas apapun hasilnya,, dakwah , usaha dan keringat kita, ato bahkan cacian yang kita terima (kalo da yang merasa) akan diganti oleh Allah dengan sebaik-baiknya balasan..

"Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan orang yang menyerukan kepada kebajikan menyuruh kepada yangb ma'ruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung." Q.S Ali Imron:104

Beruntung?
"Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu kedalam surgha yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, dan memasukkan kamu kedalam tempat tinggal yag baik di dalam surga 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar". Q.s. Ash-Shaff:12

Forsika

Visi
1. Terbentuknya kehidupan yang bernuansa Islami di lingkungan dan fakultas pertanian khususnya
dan universitas Brawijaya pada umumnya.
2. Sebagai wadah pembentukan kader dan pengembangan potensi muslim yang berdimensi diniyah, intelektualitas, profesionalitas,dan kemasyarakatan.

3. Sebagai unsur perekat lembaga dan civitas akademika.

Misi
1. Menyebarkan nilai-nilai Islam dalam berbagai segi kehidupan kampus.
2. Membentuk kader da'wah yang militan dan profesional.
3. Mewujudkan eksistensi Forsika sebagai Lembaga Dakwah Kampus di fakultas Pertanian.
4. Memberdayakan seluruh poternsi civitas akademika untuk mewujudkan nuansa islami di Fakultas Pertanian.
5. Membangun keterbukaan dan kemitraan dengan banyak pihak untuk mewujudkan ukhuwah Islamiyah.

Tujuan
1. Pembentukan kader yang memiliki komitmen dan kualitas yang tinggi
2. Perbaikan hubungan Dekanat Fakultas Pertanian
3. Sinergi organisasi ke dalam
4. Menjaring dan membentuk komitmen dan tanggung jawab pengurus forsika
5. Memperkuat ukhuwah antar personal Forsika
6. Menjalin hubungan baik kepada masyarakat luas dengan peduli pada permasalahan yang ada

Powered By Blogger
ShoutMix