Artikel Terbaik


Hidup memang penuh dinamika, kadang kita berada di atas, namun tak jarang kita berada di bawah. Suatu saat kita dilimpahi dengan kesenangan dan kenikmatan duniawi, seperti mendapat keuntungan besar dalam perdagangan, mendapat pujian, naik jabatan, dsb. Dan di saat lainnya kita dihadapkan pada situasi sulit yang menghimpit dada, seperti terbelit hutang, mendapat fitnah, ditinggalkan oleh keluarga yang kita cintai, kehilangan barang, dsb. Di saat-saat ini, dunia terasa sempit bagi kita, ingin rasanya hati ini menjerit sekuat tenaga untuk menghalau beban yang menyesakkan, berusaha mencari sedikit ruang untuk bernapas dengan lega.

Tak jarang permasalahan dalam kehidupan ini mampu membutakan manusia. Hati dan penglihatannya menjadi gelap, sedang telinganya tersumbat. Ia tidak dapat membedakan lagi antara yang benar dan yang batil, yang ada dalam pikirannya hanyalah keinginan untuk melampiaskan kemarahan dan kesedihan hatinya. Ia tidak lagi memandang permasalahan yang dihadapinya dengan perspektif yang benar. Akibatnya, ia melakukan hal-hal yang berakibat sangat fatal, dan inilah yang banyak terjadi di sekeliling kita. Sudah terlalu sering kita mendengar, membaca, atau melihat melalui media massa berbagai kejadian mengenaskan di mana kehidupan seorang manusia sudah tidak ada artinya lagi. Sudah bosan kita dicekoki dengan pemberitaan mengenai tindakan zalim seorang ayah terhadap anaknya, anak terhadap ibunya, seorang anak terhadap temannya, dsb.

Lalu mengapakah manusia harus dihadapkan pada situasi semacam ini?

Mari kita kaji satu ayat dalam Al-Quran, di mana Allah berfirman,

QS. Al-Baqarah : 214
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?”. Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”

Demikianlah hakikat kehidupan, Saudaraku. Sesungguhnya tidak diturunkan manusia di bumi ini melainkan Allah berkehendak menguji, siapa di antara kita yang beriman, dan siapa di antara kita yang ingkar. Iman memang mudah diucapkan oleh lisan, tetapi untuk membuktikannya dibutuhkan perjuangan yang berat. Sejarah telah menceritakan kepada kita bagaimana Allah menguji umat-umat sebelum kita dengan cobaan yang dahsyat, tanpa terkecuali. Al-Quran menyebutkan kisah-kisah kaum terdahulu, bagaimana para nabi dan rasul beserta pengikutnya berjuang melawan kezaliman.

Lalu, apabila orang-orang yang beriman selalu diuji atas keimanan mereka, di manakah letak keadilan?

Ayat di atas telah menjelaskan bahwa surga adalah balasannya. Sesungguhnya dunia ini hanyalah sementara, sedangkan kehidupan yang sesungguhnya lagi kekal adalah kehidupan akhirat. Di sana segala amal baik dan buruk diperhitungkan dengan tepat tanpa menyisakan satu amal pun yang terlewat. Setiap amal baik akan mendekatkan manusia ke surga, sedangkan setiap amal yang buruk akan mendekatkan manusia ke neraka. Segala urusan yang tidak tuntas di dunia akan diselesaikan Allah dengan seadil-adilnya di akhirat. Itulah mengapa Islam datang pertama kali dengan seruan kepada manusia untuk meyakini adanya kehidupan akhirat.

Bagaimanakah manusia yang lemah dan terbatas ini mampu melalui cobaan-cobaan itu?

Sesungguhnya Allah telah menjanjikan pertolongan kepada Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya. Pertolongan Allah itu amat dekat. Ia pasti datang dan menyelamatkan manusia.

Namun dengan apa manusia meminta pertolongan kepada Allah ketika ditimpa cobaan?

QS. Al-Baqarah : 153-157
“Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Marilah kita renungkan, Saudaraku, bagaimana Nabi Nuh as berjuang menegakkan kalimat Allah selama hampir 1000 tahun, dan beliau tidak mendapatkan bersamanya pengikut melainkan sebagian kecil manusia saja? Bagaimana Nabi Ayub as menghadapi sakit yang dideritanya, bagaimana Nabi Yusuf as menghadapi kedengkian saudara-saudaranya, godaan Zulaikha, dan fitnah yang ditimpakan atas dirinya? Lalu bagaimana yang terjadi dengan Rasulullah saw bersama kaum mukmin menghadapi cobaan yang datang dari kaum Quraisy? Mereka tidak hanya mendustakan ajaran yang dibawa Rasulullah saw, tetapi mereka juga menyiksa, mengintimidasi, memfitnah, bahkan mereka bermaksud membunuh Rasulullah saw.

Dengan apakah, wahai Saudaraku, para hamba pilihan Allah bersama pengikutnya itu menghadapi cobaan yang begitu berat, sampai akhirnya mereka memperoleh kemenangan yang mutlak? Tidak lain dengan kesabaran. Sabar merupakan senjata menghadapi berbagai masalah kehidupan. Bahkan ketika cobaan itu merenggut jiwa dari badannya, sesungguhnya orang-orang yang gugur dalam iman kepada Allah, gugur dalam memperjuangkan agama Allah, mereka itu hidup dan mendapat ridha Allah.

Cobaan adalah sesuatu yang tidak terhindarkan dalam kehidupan. Maka janganlah apa-apa yang ‘seolah-olah’ kita miliki di dunia ini, baik itu harta, jiwa, kedudukan dan anak-anak kita membutakan mata hati kita. Hakikatnya semua itu bukanlah milik kita. Semua itu hanyalah titipan Allah, yang sewaktu-waktu bisa diambil oleh pemiliknya. Bahkan tidak ada setitik debu pun di dunia ini yang menjadi milik kita. Lalu apakah kita akan menghalangi Sang Pemilik untuk mengambil apa yang menjadi hak dan wewenangnya? Na’udzubillaah.

Tidak ada daya dan kekuatan kita untuk melawan apa yang telah menjadi ketetapan Allah. Segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Saudaraku, ingatlah konsep kepemilikan ini setiap saat dalam hidup kita, insya Allah kita akan mendapat kemudahan untuk tetap berada dalam kesabaran ketika menghadapi berbagai macam cobaan.

Namun kesabaran dalam Islam tidaklah berarti menyerah kepada keadaan, menerima setiap perlakuan dan penindasan. Sabar meliputi ikhtiar dengan niat mencari ridha Allah semata. Hidup adalah sebuah perjuangan, dan ibarat sebuah perjuangan, sabar adalah strategi menghadapi musuh yang di dalamnya terdapat teknik bertahan dan menyerang. Keduanya harus digunakan pada saat yang tepat. Tidak selamanya perjuangan berarti penyerangan ke garis batas musuh, bisa jadi kita memerlukan waktu untuk bertahan, bahkan mengambil langkah mundur sesaat. Akan tetapi kita harus terus menghinpun kekuatan dan menyusun langkah hingga kita bisa menembus pertahanan musuh dan memperoleh kemenangan. Niatkanlah semuanya karena Allah.

Saudaraku, sesungguhnya kemenangan itu telah pasti dijanjikan Allah kepada orang-orang yang sabar. Teguhkan iman, sesungguhnya Allah begitu mengasihi hamba-hamba-Nya yang bersabar. Sambutlah datangnya pertolongan Allah dan kemenangan yang telah dijanjikan, berupa kebahagiaan kehidupan yang kekal, kehidupan akhirat.

“Apabila telah Ku-bebankan kemalangan (bencana) kepada salah seorang hamba-Ku pada badannya, hartanya, atau anaknya, kemudian ia menerimanya dengan sabar yang sempurna, Aku merasa enggan menegakkan timbangan baginya pada hari kiamat atau membukakan buku catatan amalan baginya.”
(HQR. Al-Qudlani, Ad-Dailani, dan Al-Hakimut Turmudzi dari Anas ra)

QS. Ali Imran : 200
“Hai orang-orang yang beriman, berlaku sabarlah dan perkuat kesabaran di antara sesama kalian, dan bersiap-siaplah kalian serta bertaqwalah kepada Allah supaya kalian memperoleh kemenangan.”

QS. Al-Fajr : 27-30
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhan-mu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surgaku.”

( dari : Diah )

Rujukan :
1. Al-Qur’anul Karim
2. “Kumpulan Hadits Qudsi”, KH M. Ali Usma, H. A. A. Dahlan, Prof. Dr. H. M. D. Dahlan, CV Diponegoro Bandung.

Senin, 11 Februari 2008

Pasukan Militer AS Sedang Stres


Kamis, 07 Pebruari 2008
Siapa bilang Amerika menang di Iraq dan Afghanistan? Buktinya, laporan terbaru dari pejabat militer, angka bunuh diri pasukannya terus meningkat

ImageHidayatullah.com--Stres yang dialami pasukan militer Amerika Serikat (AS) sudah mencapai level memprihatinkan. Berdasar keterangan pejabat top militer AS, stres yang dirasakan pasukan AS karena bertempur di Iraq dan Afghanistan sangat signifikan.

"Penugasan ke kawasan konflik yang berulang membuat anggota militer tidak bisa memiliki waktu luang untuk memulihkan kondisi fisik dan psikis. Hal tersebut memengaruhi kemampuan mereka dalam menghadapi tantangan serta ancaman baru," kata Michael Mullen, chairman staf gabungan kepala militer (Joint Chiefs of Staff) AS.

Peringatan Mullen itu, tampaknya, menjadi dukungan kampanye antiperang yang digaungkan Partai Demokrat. Partai tersebut memang sedang berusaha mengegolkan undang-undang proanggota militer. Dalam rancangan undang-undang (RUU) itu, Demokrat ingin anggota militer mendapatkan waktu libur lebih panjang bersama keluarga setelah menjalani penugasan.

Tahun lalu, usaha meloloskan RUU tersebut gagal total setelah lobi keras yang dilakukan Menteri Pertahanan Keamanan AS Robert Gates. Dia menyatakan, istirahat terlalu lama bisa merusak hubungan baik dan kuat antara anggota militer dengan komandan-komandan mereka.

Namun, kata Mullen, pasukan Angkatan Darat (AD) seharusnya hanya bertugas ke kawasan konflik selama setahun, bukan 15 bulan. Anggota militer sebaiknya juga diberi rehat dua tahun di rumah sebelum ditugaskan ke tempat lain. Selama ini, libur antartugas diberikan setahun. Untuk Angkatan Laut, Mullen menyarankan libur 14 bulan setelah ditugaskan tujuh bulan. "Saya memberikan perhatian ekstrem atas tingginya level penugasan anggota militer," tegasnya.

Dia mengungkapkan, kekerasan di Iraq memang sudah menurun. Namun, kondisinya berbalik di Afghanistan.

"Kekerasan, pemberontakan, dan kejahatan seperti perdagangan obat bius meningkat di Afghanistan," ujarnya.

Tingginya tingkat stres yang dirasakan pasukan AS juga tercermin pada penelitian yang diusung Washington Post. Menurut studi yang dilakukan Washington Post bersama militer AS itu, angka bunuh diri yang dilakukan tentara AS meningkat 20 persen dari tahun sebelumnya.
Salah seorang psikiater militer, Kolonel Elspeth Ritchie, mengungkapkan bahwa alasan bunuh diri dan percobaan bunuh diri yang meningkat itu bukan karena berperang, namun karena frekuensi penugasan yang mengganggu hubungan sosial dengan kerabat dan teman-teman. Apalagi, kasus perceraian ditengarai menambah stres tentara. [ap/ Washington Post/jp/www.hidayatullah.com]

Rabu, 06 Februari 2008

Departemen PSDM

PSDM merupakan salah satu departemen yang ada di FORSIKA. Departemen ini mengurusi semua sumberdaya yang ada di FORSIKA yang dapat diberdayakan. PSDM merupakan pengontrol dari semua departemen.

Sabtu, 02 Februari 2008

RAMBU-RAMBU DALAM BERDAKWAH KE JALAN ALLAH TA'ALAٌ Oleh Asy-Syaikh Shalih Al Fauzan -Hafidzahullah-

Berdakwah ke jalan Allah Ta'ala merupakan jalan hidup dan peran mulia setiap rasul Alaihimussalaam dan segenap pengikutnya, untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya, dari kekufuran kepada keimanan, dari kesyirikan kepada tauhid dan dari neraka kepada surga.
Dan ia memiliki rambu-rambu dan asas-asas yang wajib dipenuhi. Kapan salah satu dari rambu-rambu dan asas-asas tersebut tidak terpenuhi maka dakwah tersebut tidak lagi dikatakan dakwah yang benar dan tidak akan menghasilkan buah yang diharapkan, berapapun banyaknya harta yang disumbangkan dan waktu yang dinafkahkan.
Rambu-rambu dan asas-asas tersebut adalah seperti yang dijelaskan di dalam Al Kitab dan As-Sunnah sebagai berikut:
1. Ilmu. Seorang yang berdakwah ke jalan Allah Ta'ala harus memiliki ilmu terhadap apa yang dia dakwahkan. Maka orang jahil tidak layak berdakwah. Allah Ta'ala berfirman,
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي
“Katakanlah, "Inilah jalanku (agamaku). Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata”. (Qs. Yusuf: 108)
2. Beramal. Seorang da’i wajib mengamalkan ajaran yang dia serukan, agar ia menjadi teladan yang baik dan ucapannya selaras dengan perbuatannya sehingga orang-orang jahat tidak memiliki alasan untuk meninggalkan kebenaran yang ia bawa. Allah Ta'ala berfirman tentang nabi Syu’aib Alaihissalaam bahwa ia berkata kepada kaumnya,
وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْأِصْلاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ
“Dan aku tidak berkehendak mengerjakan apa yang aku larang kamu daripadanya. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali”. (Qs. Huud: 88)
3. Ikhlas dalam berdakwah. Sehingga dakwah tersebut hanya karena Allah Ta'ala semata bukan karena riya’ atau sum’ah, bukan untuk mencari kedudukan, atau ingin dipandang dan bukan pula karena ingin mencari sedikit dari kesenangan dunia. Karena apabila dakwah disusupi oleh maksud-maksud tersebut, dakwahnya bukan karena Allah Ta'ala melainkan dakwah kepada kepentingan dirinya atau ketamakan yang ia turuti. Dan para nabi dan rasul Alaihimussalaam semuanya berkata kepada kaumnya,
وَيَا قَوْمِ لا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مَالاً إِنْ أَجْرِيَ إِلاَّ عَلَى اللّهِ
“Dan (dia berkata):"Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah..”. (Qs. Huud: 29)
4. Memulai dakwah dari yang paling penting kemudian yang penting. Yaitu mengawali dakwahnya kepada perbaikan akidah, mengajak manusia untuk beribadah hanya kepada Allah Ta'ala semata dan meninggalkan kesyirikan. Kemudian memerintahkan untuk menjaga shalat menunaikan zakat, mengerjakan yang wajib, meninggalkan yang haram, sebagaimana seperti inilah jalan para nabi dan rasul seluruhnya. Allah Ta'ala berfirman,
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu (peribadahan kepada selainnya)”. (Qs. An-Nahl: 36)
5. Bersabar atas setiap yang ia hadapi di jalan dakwah berupa kesulitan dan gangguan manusia. Allah Ta'ala berfirman tentang nabi-Nya Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam,
وَلَقَدِ اسْتُهْزِىءَ بِرُسُلٍ مِّن قَبْلِكَ فَحَاقَ بِالَّذِينَ سَخِرُواْ مِنْهُم مَّا كَانُواْ بِهِ يَسْتَهْزِؤُونَ
“Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu, maka turunlah kepada orang-orang yang mencemoohkan di antara mereka balasan ('azab) olok-olokkan mereka”. (Qs. Al An’am: 10)
6. Akhlak. Seorang dai wajib memiliki akhlak yang baik dan hikmah dalam berdakwah sehingga dakwahnya bisa lebih diterima. Allah Ta'ala berfirman tentang nabi-Nya Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam,
ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik”. (Qs. An-Nahl: 125)
7. Seorang dai harus memiliki semangat dan harapan yang tinggi dan tidak putus asa dalam berdakwah dan menyampaikan hidayah kepada kaumnya walau ia harus melewati masa yang panjang. Dan sejarah dakwah Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bahkan para nabi dan rasul sebelum beliau adalah sebaik-baik contoh bagi kita semua. Wallahua’lam bis Shawaab

Sumber :
Manhajul Anbiya’ fid Dakwah ilallah


Diperbolehkan mengkopi artikel dengan menyertakan sumbernya

Ikhwan Akhwat

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.(QS. Al-Hujuraat [49]: 13).


Seorang kawan dekat yang aktivis dakwah di kampus bercerita tentang temannya yang mengaku belum pantas menjadi seorang ‘ikhwan’ karena belum memiliki ilmu agama yang cukup dan belum menjalankan ajaran agama dengan sempurna. Kawan saya bilang kalau dia ingin tertawa mendengar pengakuan temannya itu. Begitu juga saya. Ada juga kawan, seorang aktivis dakwah juga, yang menulis di sebuah blog bahwa dia merasa geli ketika mendengar teman-temannya sesama aktivis yang ngomong seperti ini: “dia itu rajin shalat tahajjud lho, padahal dia bukan ikhwan,” atau “dia itu meski bukan ikhwan, tapi pinter ngaji lho..”

Istilah ikhwan dan akhwat memang semakin populer saja sejak semangat dakwah di kampus-kampus, dari kampus yang besar sampai yang kecil, mengalami peningkatan yang amat pesat, terutama dalam sepuluh tahun terakhir ini. Entah bagaimana sejarah mulanya mereka yang aktivis dakwah harus menyebut dirinya ikhwan atau akhwat. Yang jelas, ternyata ada pergeseran makna kata ‘ikhwan’ dan ‘akhwat’ dalam perjalanan penggunaannya.

Secara lughowi (bahasa) kata ‘ikhwan’ adalah bentuk jamak dari akhun, yang artinya saudara. Sedangkan akhwat adalah bentuk jamak dari ukhtun dengan arti yang sama. Saudara di sini bisa bermakna denotatif, yang berarti saudara kandung atau saudara se-pertalian darah, ataupun bermakna konotatif, yang berarti saudara dalam arti yang lebih luas. Misalnya saudara seiman, saudara seorganisasi, dst.

Barangkali, dari pemaknaan secara luas itulah mulanya istilah ikhwan dan akhwat (atau panggilan ‘akhi’ dan ‘ukhti’) dipakai di kalangan aktivis dakwah. Mungkin maksudnya adalah untuk mempertegas dan memperkuat pertalian saudara sesama muslim dan sesama aktivis. Allah SWT memang telah meniscayakan bahwa sesama mukmin adalah bersaudara (QS. Al-Hujuraat [49]: 10). Ikatan persaudaraan sesama muslim tentu akan sangat bermakna bagi seorang aktivis, apalagi ketika berada di lingkungan dan negara yang mayoritas warganya non-muslim. Tetapi, mengapa harus memakai istilah bahasa Arab dan apakah ada muatan ideologis di dalamnya ataukah hanya sekedar pilihan, tidak ada yang bisa menjawab dengan pasti. Konon, para aktivis dakwah di negara-negara Barat saling memanggil koleganya dengan brother atau sister. Yang jelas, dengan mamakai bahasa apapun, jika pemaknaannya sebatas ‘saudara sesama muslim’ atau ‘sesama aktivis dakwah’, penggunaan panggilan ikhwan atau akhwat tidak menjadi masalah. Namun, ketika pemaknaannya bergeser lebih jauh, apalagi menyangkut prinsip dan akidah, tentu akan menjadi masalah.

Kembali kepada cerita kawan saya di atas. Berdasarkan pengakuan teman dari kawan saya itu, tampaknya memang ada pergeseran makna ikhwan dan akhwat di kalangan para aktivis. Menariknya lagi, sepertinya ada lebih dari satu pergeseran makna di sana; pertama, ikhwan dan akhwat (mulanya) adalah sebutan dan identitas untuk para aktivis dakwah. Bukan ikhwan atau akhwat berarti bukan aktivis dakwah. Sampai di sini, istilah ikhwan dan akhwat hanyalah sebatas identitas atau atribut sosial yang mungkin tidak terlalu menimbulkan persoalan.

Kedua - dengan tetap melekatkan pemaknaan pertama - ikhwan dan akhwat adalah muslim yang baik, yang menjalankan ajaran agama dengan sebenar-benarnya, dan yang mendapat hidayah. Bukan ikhwan atau akhwat berarti belum menjadi muslim yang baik. Pemaknaan ini adalah seperti yang dipahami oleh teman dari kawan saya di atas. Pemaknaan ini menjadi gawat jika tidak diklarifikasi, apalagi jika diikuti dengan atribut dan simbol-simbol tertentu. Misalnya, cara berpakaian, ikut jamaah tertentu, dst.


Perubahan Makna

Sebagai manusia, kita cenderung untuk menilai dan memaknai sesuatu dari apa yang tampak. Kita juga cenderung menilai sesuatu berdasarkan pola pemahaman semantik dan persepsi yang telah terbangun dalam kepala kita, yang kita yakini kebenarannya meskipun belum tentu benar (dalam psikologi kognitif ada istilah primary effect, hallo effect, fundamental attribution error dan confirmation bias untuk menjelaskan hal tersebut). Dengan mempelajari makna kata dan perubahannya, diharapkan bias-bias persepsi dan pemahaman bahasa bisa dihindari.

Dalam ilmu linguistik, makna sebuah kata bisa berubah dalam waktu yang relatif lama, terlebih kata serapan. Cabang linguistik yang mempelajari hal ini disebut semantik diakronis, yakni pengetahuan tentang makna kata serta perubahannya dari waktu ke waktu. Perubahan tersebut disebabkan beberapa faktor, diantaranya perkembangan sosial-budaya, perkembangan pemakaian kata, pertukaran tanggapan indera, dan adanya asosiasi. Proses perubahan makna ikhwan dan akhwat di kalangan aktivis dakwah dapat dipahami dan dijelaskan dengan semantik diakronis ini.

Secara alami, perubahan makna kata memang pasti terjadi. Namun, kita sebenarnya bisa mengendalikan perubahan tersebut. Apalagi dalam komunitas masyarakat yang relatif kecil (komunitas gerakan dakwah, misalnya). Secara sederhana, misalnya, dengan menegaskan apa, mengapa dan bagaimana sebuah istilah digunakan.


Simbol dan Hakikat

Apa yang dapat kita pelajari dari bincang-bincang kita tentang pemakaian dan pemaknaan kata ‘ikhwan’ dan ‘akhwat’ dalam tulisan ini? Bahwa bahasa, simbol, dan apapun yang tertangkap oleh indera, belum tentu menggambarkan hakikat yang sebenarnya dari apa dan siapa yang diekspresikan oleh bahasa atau simbol tersebut.

Simbol dan bahasa adalah apa yang tampak dan apa yang bisa ditangkap oleh indera, dan ia sangat terbatas. Sedangkan hakikat adalah apa yang ada dalam hati. Maka, untuk mengetahui hakikat seseorang, jangan hanya percaya pada simbol dan bahasa, akan tetapi kenalilah, selamilah lebih dalam apa dan siapa dibalik simbol dan bahasa tersebut. Itulah yang diajarkan dan disunnahkan oleh Rasulullah SAW.

Dalam sebuah riwayat diceritakan, bahwa Abdullah bin Mas’ud ra. pernah diejek karena betisnya yang kecil (perhatikan kata ‘kecil’ dalam kalimat “betis yang kecil” yang mungkin dikonotasikan sebagai sesuatu yang jelek dan buruk). Sekonyong-konyong Rasulullah SAW. datang dan menegaskan bahwa kedua betis yang kurus itu di sisi Allah lebih berat daripada bukit Uhud. Bilal bin Rabah ra. adalah mantan budak yang berkulit hitam legam. Ia bahkan ragu-ragu untuk menyunting seorang perempuan. Akan tetapi, siapakah yang berani menyepelekannya? Ketika lamaran disampaikan, perempuan itu sampai menangis lantaran merasa dirinya tidak cukup pantas untuk mendampingi seorang shalih sekaliber sang mantan budak.

Maka dari itu Nabi SAW bersabda: Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat kepada tubuh dan bentuk kamu, tetapi Dia melihat kepada hati kamu. (HR. Muslim dari Abu Hurairah r.a.)


***


Penggunaan simbol, istilah, sebutan, label atau apapun untuk menegaskan identitas adalah hal yang lumrah dan sah. Namun jika simbol, istilah, sebutan, dan label itu kemudian digunakan untuk menentukan kadar hati dan iman seseorang, baik disengaja atau tidak, maka itu telah melampaui batas.

Akhirul kalam, saudara-saudara yang menggunakan istilah ‘ikhwan’ dan ‘akhwat’ , atau istilah apapun dari bahasa apapun, silahkan diteruskan. Apalagi kalau itu bisa memperkuat ikatan persaudaraan sesama, apalagi kalau itu menambah semangat Anda untuk berusaha menjadi muslim yang lebih baik dan bermanfaat bagi orang-orang di sekitar Anda. Tapi harus diingat, sebelum menggunakan istilah tersebut, makna asli dan tujuan penggunaan istilah tersebut harus diketahui agar tidak terjadi pergeseran makna yang tidak benar.

Selanjutnya, mari kita kembalikan ukuran penilaian kita terhadap seseorang berdasarkan amaliah ibadah dan perilakunya sehari-hari, bukan pada aktif di organisasi apa orang itu, aktif di jamaah apa dia, orang mana dia, atau berasal dari suku apa. Tentu saja ukuran penilaian yang saya maksud di sini adalah sebatas ukuran baik dan tidak baik secara manusiawi, bukan sampai pada apakah orang itu termasuk golongan surga atau neraka, atau apakah orang itu bertakwa atau tidak. Karena hanya Allah Ta’ala semata Yang Tahu dan Yang Berhak.

Wallahu A’lam.


A.B. Eko Prasetyo

Forsika

Visi
1. Terbentuknya kehidupan yang bernuansa Islami di lingkungan dan fakultas pertanian khususnya
dan universitas Brawijaya pada umumnya.
2. Sebagai wadah pembentukan kader dan pengembangan potensi muslim yang berdimensi diniyah, intelektualitas, profesionalitas,dan kemasyarakatan.

3. Sebagai unsur perekat lembaga dan civitas akademika.

Misi
1. Menyebarkan nilai-nilai Islam dalam berbagai segi kehidupan kampus.
2. Membentuk kader da'wah yang militan dan profesional.
3. Mewujudkan eksistensi Forsika sebagai Lembaga Dakwah Kampus di fakultas Pertanian.
4. Memberdayakan seluruh poternsi civitas akademika untuk mewujudkan nuansa islami di Fakultas Pertanian.
5. Membangun keterbukaan dan kemitraan dengan banyak pihak untuk mewujudkan ukhuwah Islamiyah.

Tujuan
1. Pembentukan kader yang memiliki komitmen dan kualitas yang tinggi
2. Perbaikan hubungan Dekanat Fakultas Pertanian
3. Sinergi organisasi ke dalam
4. Menjaring dan membentuk komitmen dan tanggung jawab pengurus forsika
5. Memperkuat ukhuwah antar personal Forsika
6. Menjalin hubungan baik kepada masyarakat luas dengan peduli pada permasalahan yang ada

Powered By Blogger
ShoutMix